Mulai Pendaftaran
Sudah mantap? Amankan jadwal belajarnya lebih dulu; prosesnya singkat.
Mulai Pendaftaran4,9/5 · 1.223 ulasan · SD · SMP · SMA
Bimbel olimpiade Jogja untuk peserta SD, SMP, dan SMA, satu pembina untuk satu peserta. Tutor datang ke alamat Anda atau mengajar lewat kelas daring, menyiapkan seleksi sekolah, OSN-K, OSN-P, sampai babak nasional. Mulai Rp87.000 per sesi.
Arsip soal provinsi yang dipakai di sesi kami lengkap sampai pembahasan langkahnya. Saya jadi tahu di titik mana biasanya poin saya hilang, dan itu ternyata selalu di bagian yang sama.
Simulasi jam pengerjaannya persis seperti hari pelaksanaan. Waktu masuk ruang seleksi saya sudah tidak kaget lagi melihat sisa waktu tinggal sedikit.
Kami tinggal di Wates dan seluruh sesinya lewat layar. Tutornya tetap bisa mengoreksi tulisan tangan anak karena lembar kerjanya dikirim lebih dulu.
Jadwalnya bisa digeser waktu anak saya masuk masa latihan ASPD. Porsi olimpiadenya dikurangi sementara, lalu dikembalikan setelah ujiannya selesai.
Pembina pertama kurang klop gaya bicaranya dengan anak kami. Diganti dua hari kemudian tanpa tambahan biaya, dan yang kedua langsung nyambung.
Struktur seleksi
Setiap babak menuntut hal yang berbeda. Menyiapkan semuanya dengan cara yang sama adalah kesalahan yang paling sering kami temui pada peserta di Jogja yang berlatih sendiri.
Dijalankan sekolah untuk memilih wakil yang didaftarkan. Bentuk dan bobotnya berbeda antar sekolah, sebagian memakai nilai rapor, sebagian menggelar tes sendiri.
Strategi tutor
Tanyakan formatnya ke guru pembina sejak awal semester. Peserta yang tahu bentuk seleksinya bisa menyiapkan diri jauh sebelum pengumuman internal keluar.
Digelar serentak dengan durasi satu jam per cabang untuk jenjang SD, satu setengah jam untuk IPA dan IPS jenjang SMP, dan dua setengah jam untuk Matematika.
Strategi tutor
Kecepatan lebih menentukan daripada kedalaman. Latih peserta menyelesaikan soal mudah dengan cepat supaya sisa waktu terkumpul untuk soal berat di bagian akhir.
Wakil lima kabupaten dan kota se-DIY bersaing memperebutkan tiket nasional. Soalnya lebih panjang dan menuntut penulisan langkah yang bisa diikuti pemeriksa.
Strategi tutor
Porsi latihan bergeser ke pembuktian dan penulisan argumen. Peserta yang terbiasa hanya menulis jawaban akhir kehilangan poin paling banyak di babak ini.
Babak puncak yang mempertemukan wakil seluruh provinsi. Untuk sebagian cabang ada komponen praktik dan pengamatan di samping tes tulis.
Strategi tutor
Persiapan mental dan stamina masuk hitungan karena pelaksanaannya berhari-hari. Latihan diarahkan ke ketahanan mengerjakan soal panjang secara berturut-turut.
Peraih medali di tingkat nasional berpeluang masuk seleksi pembinaan menuju olimpiade internasional di bidangnya masing-masing.
Strategi tutor
Peserta yang menargetkan tahap ini perlu mulai membaca sumber berbahasa Inggris sejak jenjang SMA, karena bahan pembinaan di tingkat itu memakainya.
Tahap demi tahap
Rentang di bawah adalah pola yang paling sering terjadi di bimbel olimpiade Jogja. Peserta yang sudah pernah lolos OSN-K biasanya memulai dari babak ketiga.
Uji petik dikerjakan, hasilnya dibaca bersama, lalu cabang dan titik mulai ditetapkan. Keluarga menerima gambaran jujur soal jarak antara kemampuan sekarang dan tuntutan seleksi.
Materi yang belum diajarkan di sekolah dibuka lebih dulu. Bagian ini terasa paling berat karena hasilnya belum kelihatan, dan justru di sini banyak peserta berhenti terlalu cepat.
Arsip OSN-K mulai dikerjakan per topik. Skor tiap latihan dicatat supaya kenaikannya terlihat, dan topik yang skornya diam di tempat mendapat porsi tambahan.
Latihan dijalankan dengan jam resmi dan tanpa jeda. Sasarannya berpindah ke keterampilan memilih: soal mana yang dikerjakan lebih dulu, dan soal mana yang ditinggal tanpa penyesalan.
Peserta yang lolos naik ke lapis soal yang lebih berat dengan penekanan pada penulisan langkah. Bobot pembuktian di tingkat provinsi jauh lebih besar daripada di kabupaten dan kota.
Sesi dipendekkan, isinya soal ringan dan pembahasan kesalahan lama. Tidur cukup dan perjalanan menuju lokasi ikut direncanakan, terutama untuk peserta dari Gunungkidul dan Kulon Progo.
Kenali Tutornya
Profil di bawah hanyalah sebagian; tim kami memilihkan yang paling cocok untuk anakmu.








Bedah materi
Delapan topik berikut muncul hampir tiap tahun di berkas seleksi, dan pola kesalahannya berulang. Kami menuliskannya terbuka supaya keluarga tahu apa yang sebenarnya dikerjakan di dalam sesi bimbel olimpiade Jogja.
| Bahasan | Yang dicakup | Titik rawan | Cara kami mendampingi |
|---|---|---|---|
| Teori Bilangan (Matematika SMP dan SMA) | Keterbagian, faktor persekutuan, aritmetika modulo, sisa pembagian, dan persamaan bilangan bulat sederhana. | Peserta menemukan jawaban yang benar lewat coba-coba angka, lalu berhenti di situ. Di babak provinsi cara itu kehilangan poin karena yang dinilai adalah argumennya. | Setiap soal dikerjakan dua kali: pertama bebas mencoba, kedua wajib menulis alasan kenapa jawaban itu satu-satunya yang mungkin. |
| Kombinatorika dan Peluang (Sering keluar di OSN-K) | Aturan penjumlahan dan perkalian, permutasi, kombinasi, prinsip sarang merpati, dan pencacahan dengan pembatas. | Kasus terhitung dua kali atau ada kasus yang terlewat. Kesalahan ini nyaris tidak terlihat oleh peserta sendiri karena jawabannya tetap tampak masuk akal. | Peserta dilatih menggambar diagram kasus sebelum menghitung, dan mengecek ulang dengan menghitung kasus kecil secara manual. |
| Geometri Bidang (Matematika semua jenjang) | Kesebangunan, lingkaran dalam dan luar, garis istimewa segitiga, serta pembuktian sudut dan panjang. | Gambar dibuat terlalu rapi sehingga terlihat simetris, lalu peserta menyimpulkan sifat yang sebenarnya tidak diketahui dari soal. | Kami membiasakan menggambar sketsa yang sengaja tidak simetris, supaya sifat yang benar-benar berlaku terlihat berbeda dari sifat yang kebetulan tampak. |
| Aljabar dan Ketaksamaan (Jenjang SMA) | Manipulasi bentuk aljabar, akar persamaan, fungsi, serta ketaksamaan rerata dan Cauchy pada tingkat pengantar. | Peserta menghafal nama ketaksamaan tanpa mengenali kapan syaratnya terpenuhi, lalu memakainya pada bentuk yang tidak memenuhi syarat. | Tiap ketaksamaan dibongkar dari buktinya, lalu diuji pada contoh yang sengaja melanggar syaratnya supaya batasnya terasa. |
| Kerja Ilmiah dan Analisis Data (IPA jenjang SD dan SMP) | Membaca tabel dan grafik, memisahkan variabel bebas dan terikat, menyimpulkan dari percobaan, serta menaksir hasil pengukuran. | Peserta menjawab dari pengetahuan umum yang sudah dimiliki, tanpa memeriksa apakah data di soal benar-benar mendukungnya. | Setiap jawaban wajib menunjuk baris atau titik data yang mendasarinya, jadi kebiasaan menebak dari ingatan terputus sejak awal. |
| IPS Terpadu (Jenjang SD dan SMP) | Ekonomi dasar, geografi Indonesia, sosiologi, dan sejarah nasional yang dibaca secara terhubung dalam satu kasus. | Peserta belajar keempat cabang secara terpisah, lalu bingung saat satu soal meminta membaca peta sekaligus menimbang dampak ekonominya. | Latihan memakai kasus wilayah nyata, misalnya perubahan lahan pertanian di Bantul, sehingga keempat cabang terpanggil sekaligus. |
| Mekanika dan Analisis Dimensi (Fisika SMA) | Kinematika, dinamika, kekekalan energi dan momentum, gerak melingkar, serta pemeriksaan satuan pada tiap langkah. | Angka disubstitusi terlalu dini, sehingga kesalahan kecil di awal terbawa sampai akhir dan sulit dilacak kembali. | Peserta diminta menyelesaikan soal dalam bentuk simbol sampai baris terakhir, baru memasukkan angka satu kali di ujung. |
| Algoritma dan Struktur Data (Informatika SMA) | Pencarian dan pengurutan, rekursi, tumpukan dan antrean, graf dasar, serta perkiraan jumlah operasi sebuah program. | Program berjalan benar pada contoh kecil lalu kehabisan waktu pada data besar, dan peserta menyangka logikanya yang salah. | Setiap solusi ditaksir jumlah operasinya sebelum ditulis, lalu diuji dengan data buatan yang sengaja dibesarkan. |
Angka penilaiannya
4,9/5
rating dari 1.223 ulasan wali & siswa
Kenapa Edufio
Pembina kami banyak yang dulu ikut OSN sampai babak provinsi atau nasional, lalu melanjutkan kuliah di kampus Jogja seperti UGM, UNY, UII, dan UAD. Mereka hafal rasa gugup di ruang seleksi, dan itu terbawa ke cara mereka menyiapkan peserta.
Soal OSN-K dan OSN-P beberapa tahun terakhir dikumpulkan, dipilah per topik, lalu ditandai mana yang polanya berulang. Peserta berlatih dari berkas yang benar-benar pernah keluar, bukan dari soal karangan yang dibuat mirip.
Sesi latihan sesekali dijalankan dengan durasi persis seperti panduan: satu jam per cabang untuk SD, sampai dua setengah jam untuk Matematika SMP dan SMA. Peserta belajar membagi waktu sebelum hari pelaksanaan tiba.
Peserta Kimia dipegang tutor Kimia, peserta Informatika dipegang tutor yang menulis kode setiap hari. Kami menolak menempatkan satu pengajar umum untuk sembilan cabang yang silabusnya sama sekali berbeda.
Tiap langkah yang meleset dicatat beserta sebabnya, lalu dibuka lagi dua pekan kemudian untuk diuji ulang. Setelah dua bulan, catatan itu jadi peta kelemahan pribadi yang paling berguna menjelang seleksi.
Menjelang hari seleksi, sesi bergeser ke pembahasan soal ringan dan pengaturan istirahat. Menambah materi baru pada pekan terakhir justru membuyarkan yang sudah dikuasai, jadi kami sengaja menahan diri.
OSN menguji cara berpikir. Soal ulangan sekolah meminta siswa memakai rumus yang baru saja diajarkan minggu itu. Soal OSN memberi situasi yang belum pernah dilihat, lalu meminta siswa memilih sendiri alat mana yang dipakai untuk membukanya.
Perbedaan itu menjelaskan kenapa anak yang selalu masuk tiga besar di kelas bisa terkejut saat pertama kali membuka berkas OSN-K. Sebagian materinya memang berada di luar kurikulum jenjangnya, dan bobot terbesar duduk pada rangkaian penalaran yang menyambungkan beberapa konsep sekaligus.
Di sesi bimbel olimpiade Jogja, latihan dimulai dari membedah soal: apa yang diketahui, apa yang ditanya, dan konsep mana yang menjembatani keduanya. Peserta diminta menulis alur pengerjaannya, sebab di babak provinsi dan nasional jawaban akhir yang benar dengan langkah berantakan tetap kehilangan poin.
Tutor juga menahan diri untuk tidak segera memberi kunci. Diam beberapa menit di depan satu soal sulit adalah bagian dari latihan, dan justru di menit-menit itu kebiasaan berpikir seorang peserta olimpiade mulai terbentuk.
Garis besarnya
Seleksi internal untuk memilih siapa yang didaftarkan sekolah. Di sekolah yang rutin mengirim wakil, tahap ini sudah ketat karena kuota per bidang terbatas.
Digelar serentak. Pada 2026 jenjang SD berlangsung 8 Juni, SMP 11 Juni, dan SMA 18 sampai 19 Juni. Hasilnya menentukan siapa mewakili kabupaten atau kotanya ke tingkat provinsi.
Wakil lima kabupaten dan kota se-DIY bertemu di papan yang sama. Jadwal 2026 jatuh pada 6 Juli untuk SD, 9 Juli untuk SMP, dan 27 sampai 29 Juli untuk SMA.
Babak puncak yang mempertemukan wakil seluruh provinsi. Tahun ini berlangsung 25 sampai 31 Agustus 2026, dan dari sinilah peraih medali masuk pembinaan lanjutan.
Siklusnya cukup rapi dan berulang setiap tahun. Pendaftaran dibuka sekitar Februari lewat portal Balai Pengembangan Talenta Indonesia, seleksi kabupaten dan kota jatuh di Juni, tingkat provinsi di Juli, lalu babak nasional di Agustus.
Artinya jendela latihan yang wajar terbuka jauh sebelum itu. Peserta yang mulai enam sampai dua belas bulan lebih awal punya ruang untuk membangun fondasi dulu, baru masuk ke soal-soal seleksi. Yang mulai dua bulan sebelum OSN-K biasanya hanya sempat mengenali pola soal tanpa sempat memperbaiki dasarnya.
Di Jogja ada satu hal lagi yang perlu dihitung. Tahun ajaran dimulai 13 Juli, sementara siswa kelas 6 dan kelas 9 menghadapi ASPD pada rentang Januari sampai April. Dua agenda itu bertumpuk dengan persiapan OSN di semester yang sama.
Karena itu jadwal peserta kelas akhir kami susun berbeda: porsi olimpiade dipadatkan pada semester ganjil, lalu dikurangi saat latihan ASPD masuk. Menyamakan beban dua-duanya sepanjang tahun hanya membuat anak kelelahan di keduanya.
Keunggulan
Satu sesi berdurasi 90 sampai 120 menit, dan isinya sudah ditentukan sejak sebelum tutor berangkat ke alamatmu di Jogja.
Tutor membuka dengan dua atau tiga pertanyaan pendek dari topik pekan lalu. Tujuannya memastikan yang sudah dipahami memang masih melekat sebelum lapisan baru ditumpuk di atasnya.
Satu topik dikupas sampai ke asal rumusnya. Peserta olimpiade perlu tahu dari mana sebuah rumus datang, sebab soal seleksi sering memutar situasinya sehingga rumus hafalan tak lagi cocok dipasang.
Peserta mengerjakan sendiri sementara tutor mengamati langkahnya. Petunjuk baru diberikan setelah peserta benar-benar mentok, dan bentuknya pertanyaan balik, jarang berupa jawaban langsung.
Pekerjaan peserta dibaca ulang bersama, termasuk yang jawabannya sudah benar. Banyak poin hilang di babak provinsi karena langkahnya melompat, jadi kerapian penulisan ikut dilatih sejak awal.
Tiga sampai lima soal dibawa pulang, dipilih supaya bisa dikerjakan tanpa bantuan. Tugas yang terlalu berat membuat peserta menyerah, dan yang terlalu ringan tidak meninggalkan bekas apa-apa.
Selesai sesi, tutor menulis ringkasan pendek: topik yang dibahas, yang sudah aman, dan yang perlu diulang. Keluarga bisa membacanya tanpa perlu ikut menunggui sesi dari awal sampai akhir.
Jenjang SD dan SMP sama-sama melombakan tiga bidang: Matematika, IPA, dan IPS. Cakupannya berbeda jauh meski namanya sama. Soal IPA jenjang SD masih banyak bertumpu pada pengamatan dan penalaran sederhana, sedangkan soal IPA jenjang SMP sudah menuntut hitungan dan pembacaan grafik.
Jenjang SMA melompat menjadi sembilan cabang: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, dan Geografi. Empat cabang terakhir itu peminatnya jauh lebih sedikit di Jogja, padahal justru di sanalah peluang lolos ke provinsi biasanya lebih terbuka.
Memilih cabang sebaiknya dilakukan lebih awal, idealnya kelas 10 semester ganjil. Silabus tiap cabang panjang, dan berpindah bidang di tengah jalan berarti mengulang fondasi dari nol.
Kalau keluarga masih ragu, sesi pertama kami pakai untuk mencoba dua cabang yang paling mungkin. Setelah itu peserta biasanya sudah punya kecondongan sendiri, dan pilihan yang datang dari anaknya jauh lebih tahan lama daripada pilihan yang ditentukan dari luar.
Uraian
Teori bilangan, aljabar, geometri, dan kombinatorika. Format seleksinya campuran pilihan ganda dan isian singkat dengan durasi dua setengah jam.
Mekanika, termodinamika, gelombang, listrik magnet, sampai fisika modern. Soalnya banyak berbentuk isian singkat, jadi ketelitian hitungan sangat menentukan.
Stoikiometri, termokimia, kesetimbangan, kinetika, dan kimia organik dasar. Kesalahan yang paling sering muncul justru pada konversi satuan, bukan pada konsepnya.
Anatomi, fisiologi, genetika, ekologi, evolusi, dan bioteknologi. Cakupan bacaannya paling lebar di antara sembilan cabang, sehingga butuh disiplin membaca sejak awal.
Algoritma, struktur data, dan pemrograman kompetitif. Peserta perlu terbiasa menulis kode yang berjalan cepat, karena batas waktu eksekusi ikut dinilai.
Mekanika benda langit, fotometri, dan pengetahuan tata surya. Cabang ini menuntut fisika dan matematika sekaligus, dan peminatnya di DIY tergolong sedikit.
Mikroekonomi, makroekonomi, dan akuntansi dasar. Banyak soal berbentuk kasus, sehingga kemampuan membaca cepat sama pentingnya dengan penguasaan teori.
Geologi, meteorologi, oseanografi, dan astronomi kebumian. Peserta di Jogja punya keuntungan bahan pengamatan: Merapi dan pesisir selatan ada di halaman rumah sendiri.
Geografi fisik, manusia, dan teknik pemetaan termasuk penginderaan jauh. Kemampuan membaca peta topografi hampir selalu muncul di soal seleksi.
Jogja menyimpan satu keuntungan yang jarang dimiliki kota lain: jumlah mahasiswa bidang sains dan pendidikan sains yang sangat besar, terkumpul dalam radius kecil. UGM, UNY, UII, UAD, Sanata Dharma, dan AMIKOM berdiri berdekatan, dan sebagian mahasiswanya adalah alumni OSN yang masih ingat betul isi silabusnya.
Kedekatan itu berdampak langsung. Tutor Kimia yang tinggal di Depok bisa mengajar di Ngaglik dan kembali ke kampus di sore hari yang sama. Sekolah-sekolah yang rutin mengirim wakil ke tingkat provinsi juga berkumpul di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, sehingga bahan latihan beredar cepat antar pembina.
Sisi lain yang jarang dibicarakan adalah budaya belajarnya. Kebiasaan bertanya sampai tuntas sudah lumrah di lingkungan kampus Jogja, dan peserta yang terbiasa mendebat langkah pengerjaan tutornya justru berkembang paling cepat.
Yang tidak merata adalah sebarannya. Kulon Progo dan Gunungkidul jauh lebih tipis pilihan pembinanya dibanding Sleman, dan untuk dua kabupaten itu kelas daring memang jalur layanan utama kami.
Rincian
Wilayah dengan pilihan pembina paling banyak. Sesi kunjungan rutin berjalan di Depok, Ngaglik, Mlati, Gamping, Kalasan, dan Ngemplak, termasuk untuk cabang yang tutornya sedikit seperti Astronomi.
Jarak antar kemantren pendek, jadi jadwal sore hari mudah diatur. Umbulharjo, Gondokusuman, Kotagede, dan Mergangsan adalah area yang paling sering meminta pendampingan Matematika dan Informatika.
Kasihan, Sewon, dan Banguntapan berada dekat kampus, sehingga tutor mudah dijangkau. Untuk kapanewon selatan seperti Kretek dan Pundong, sesi campuran kunjungan dan daring lebih masuk akal.
Pilihan pembina di sini paling tipis, jadi kelas daring kami jadikan jalur utama. Wates, Pengasih, dan Sentolo tetap bisa menerima kunjungan untuk jadwal akhir pekan.
Wonosari, Playen, dan Karangmojo dilayani terutama lewat kelas daring, dengan lembar kerja dikirim sebelum sesi supaya peserta sudah memegang soalnya saat kamera menyala.
Pertanyaan yang paling sering masuk dari keluarga di Jogja berbunyi begini: anak saya pintar di sekolah, apakah sudah cukup untuk ikut OSN? Jawaban jujurnya bergantung pada jenjang.
Di jenjang SD, modal utamanya adalah ketelitian dan kecepatan berhitung. Anak yang masih sering keliru operasi dasar sebaiknya merapikan itu dulu selama satu sampai dua bulan sebelum masuk soal olimpiade, sebab soal seleksi menuntut keduanya berjalan bersamaan.
Di jenjang SMP, yang menentukan adalah kesiapan berpikir abstrak. Peserta perlu nyaman dengan variabel, pola, dan pembuktian sederhana. Kemampuan ini bisa dibangun, dan biasanya butuh tiga sampai empat bulan latihan rutin.
Di jenjang SMA, yang paling menentukan justru ketersediaan waktu. Silabus tiap cabang panjang, dan peserta yang serius umumnya menyisihkan enam sampai delapan jam sepekan di luar jam sekolah. Kalau jadwal anak sudah penuh oleh kegiatan lain, lebih baik memilih satu cabang dan menekuninya perlahan daripada memaksakan target yang tidak realistis.
Sorotan utama
Kumpulan soal OSN-K dan OSN-P beberapa tahun terakhir, sudah dipilah per topik supaya latihan bisa menyasar satu kelemahan tertentu tanpa mengacak seluruh berkas.
Tiap topik punya tiga lapis kesulitan. Peserta baru mulai dari lapis pertama, sedangkan yang sudah pernah lolos OSN-K langsung masuk lapis ketiga tanpa mengulang dari awal.
Berkas khusus per peserta yang mencatat setiap salah langkah beserta sebabnya. Isinya dibuka ulang secara berkala, dan biasanya pola kesalahannya berulang di tiga atau empat titik yang sama.
Dipakai saat sesi simulasi, disetel mengikuti durasi resmi tiap jenjang dan cabang. Peserta jadi terbiasa merasakan sisa waktu tanpa perlu terus melirik jam dinding.
Salinan cakupan bidang dari panduan penyelenggara, dipakai sebagai penanda batas. Belajar di luar batas silabus menghabiskan waktu tanpa menambah peluang di ruang seleksi.
Sebagian besar peserta memang berhenti di tahap kabupaten dan kota, dan itu bukan kabar buruk. Kuota yang lolos ke provinsi kecil, sementara peserta di Sleman dan Kota Yogyakarta saja sudah ratusan tiap cabang.
Yang perlu dijaga adalah cara keluarga membacanya. Anak yang pulang dengan perasaan gagal cenderung berhenti sama sekali, padahal latihan olimpiade selama beberapa bulan meninggalkan bekas yang terpakai di banyak tempat lain.
Bekasnya nyata. Kebiasaan mengurai soal panjang membantu di ASPD kelas 6 dan kelas 9. Ketelitian membaca soal terbawa ke UTBK. Peserta Informatika yang gagal di OSN-K sering justru menemukan jalannya di kompetisi pemrograman yang lain.
Untuk peserta yang ingin mencoba lagi tahun berikutnya, kami menyusun evaluasi pendek setelah pengumuman: bidang mana yang skornya jatuh, apakah waktunya habis, dan apakah topiknya memang belum sempat disentuh. Percobaan kedua yang berangkat dari catatan itu hasilnya jauh lebih baik daripada mengulang seluruh materi dari awal.
Halaman terkait
Urutannya
Kirim pesan atau isi formulir pendaftaran. Cukup sebutkan kelas berapa, cabang OSN yang diincar, dan tahap yang pernah ditempuh sebelumnya. Balasan kami masuk dalam 1x24 jam.
Kami kirimkan satu berkas soal pendek untuk dikerjakan tanpa bantuan. Hasilnya dipakai menentukan titik mulai, sehingga sesi pertama tidak habis untuk mengulang yang sudah dikuasai.
Kami tawarkan dua sampai tiga nama pembina yang cocok dengan cabangnya, lengkap dengan kampus dan rekam jejak olimpiadenya. Keluarga memilih, lalu jam sesi disepakati bersama.
Pembina datang ke alamat yang disepakati, atau tautan kelas daring dikirim sebelum jam mulai. Ringkasan sesi masuk ke keluarga pada hari yang sama.
Cukup ceritakan kebutuhanmu, kami rancang jalur belajar olimpiade OSN yang tepat sasaran.
Sudah mantap? Amankan jadwal belajarnya lebih dulu; prosesnya singkat.
Mulai PendaftaranMasih menimbang? Ceritakan kebutuhan belajarnya, kami bantu carikan arah.
Tanya lewat WhatsApp