| Alfabet dan padanan bunyinya | Dua puluh sembilan huruf, enam di antaranya tidak ada dalam abjad Indonesia. Tiga huruf Latin yang lazim di Indonesia justru tidak dipakai Turki. | Pembaca Indonesia membaca huruf c seperti pada kata cari dan huruf c berekor seperti pada kata jari. Kenyataannya terbalik, dan kekeliruan ini bertahan berbulan-bulan bila dibiarkan. | Tutor memakai pasangan kata yang hanya berbeda satu huruf lalu meminta peserta membacanya bergantian. Keliru yang muncul dikoreksi di detik itu juga, sebelum sempat menetap. |
|---|
| Vokal yang tak dikenal bahasa Indonesia | Tiga vokal baru beserta posisi lidah dan bentuk bibirnya, dilatih pada kata yang sering dipakai sehari-hari. | Vokal datar tanpa titik diratakan menjadi i biasa, sehingga kata untuk tahun dan kata untuk anak perempuan berubah bunyi dan kadang berubah arti. | Latihan cermin dipakai supaya peserta melihat bentuk bibirnya sendiri. Vokal bulat depan dilatih dari posisi i dengan bibir dibulatkan, lalu diuji lewat rekaman pendek. |
|---|
| Keselarasan vokal | Dua sistem sekaligus: pembagian vokal depan dan belakang untuk akhiran dua bentuk, serta perhitungan bibir bulat untuk akhiran empat bentuk. | Peserta menghafal daftar akhiran tanpa memeriksa vokal terakhir kata dasarnya, lalu menulis bentuk jamak dengan vokal yang salah kelompok. | Akhiran selalu diajarkan berpasangan sejak awal, tidak pernah satu bentuk saja. Peserta melingkari vokal terakhir kata sebelum menempelkan akhiran sampai kebiasaan itu berjalan sendiri. |
|---|
| Pelunakan dan penyesuaian konsonan | Empat konsonan yang melunak saat bertemu akhiran bervokal, dan akhiran yang mengeras setelah konsonan tak bersuara. | Kata untuk buku ditambah akhiran kepunyaan ditulis apa adanya, padahal konsonan terakhirnya wajib melunak. Kesalahan yang sama muncul pada penanda tempat sesudah kata berakhiran k. | Delapan konsonan tak bersuara dihafal lewat satu kalimat pengingat pendek yang memuat semuanya, lalu diuji dengan kartu kata sampai perubahannya terjadi tanpa berpikir. |
|---|
| Enam kasus kata benda | Bentuk dasar, penanda objek tertentu, arah tuju, tempat berada, titik asal, dan kepemilikan. Semuanya berupa akhiran, tanpa kata depan terpisah. | Bahasa Indonesia memakai kata depan yang berdiri sendiri, sehingga peserta menulis penanda tempat sebagai kata terpisah di depan kata bendanya. | Enam kasus dilatih memakai satu kata benda yang sama sepanjang satu sesi penuh. Karena yang berubah hanya ujungnya, polanya terlihat tanpa perlu tabel. |
|---|
| Penanda objek tertentu | Kehadiran dan ketiadaan penanda objek, dan bagaimana keduanya membedakan benda yang sudah diketahui pendengar dari benda mana saja. | Kalimat dengan penanda dan tanpa penanda diterjemahkan sama persis ke bahasa Indonesia, sehingga peserta menganggap penandanya tidak penting lalu membuangnya. | Tutor menyodorkan dua gambar, satu rak buku penuh dan satu buku yang sedang ditunjuk. Peserta memilih kalimat yang cocok sampai perbedaannya terasa. |
|---|
| Urutan kalimat dengan kata kerja di akhir | Susunan subjek, keterangan, objek, lalu kata kerja. Termasuk letak keterangan waktu dan tempat yang cenderung maju ke depan kalimat. | Kalimat disusun mengikuti kebiasaan bahasa Indonesia, sehingga kata kerja terlanjur keluar di tengah dan objeknya menggantung di belakang. | Kalimat dipecah menjadi kartu kata yang disusun ulang di meja. Peserta memindahkan kartu kata kerja ke ujung kanan berulang kali sampai kebiasaannya berpindah. |
|---|
| Bentuk sedang berlangsung dan bentuk luas | Bentuk untuk kejadian yang berlangsung sekarang atau berulang, dan bentuk luas untuk kebiasaan, kesediaan, serta tawaran sopan. | Semua kalimat kebiasaan dituang ke bentuk sedang berlangsung karena terasa paling aman, sehingga tawaran sopan yang sangat sering dipakai di Turki tak pernah terpakai. | Dua bentuk dipakai bergantian dalam satu percakapan memesan teh dan kopi, supaya perbedaannya muncul dari situasi dan bukan dari daftar aturan. |
|---|
| Dua bentuk lampau | Bentuk untuk kejadian yang disaksikan sendiri dan bentuk untuk kabar, kesimpulan, serta cerita. Termasuk pemakaiannya dalam dongeng dan berita. | Bahasa Indonesia tidak menandai sumber informasi, jadi peserta memakai bentuk saksi mata untuk kabar yang ia dengar dan terdengar mengaku hadir di sana. | Peserta menceritakan ulang tiga jenis bahan: kabar keluarga, ramalan cuaca, dan cerita rakyat. Tutor menandai setiap kalimat yang salah sumber. |
|---|
| Menyatakan kepemilikan | Pola kepemilikan lewat kata ada dan tiada, akhiran kepunyaan pada kata bendanya, dan bentuk lampaunya. | Peserta mencari kata kerja punya yang memang tidak ada dalam bahasa Turki, lalu menerjemahkan kata per kata dan berhenti di tengah kalimat. | Latihan menggambarkan isi tas dan isi kamar, satu benda satu kalimat, sampai pola kepunyaanku ada terpasang tanpa jeda berpikir. |
|---|
| Merangkai dua kata benda | Rangkaian kata benda yang menuntut akhiran kepemilikan pada kata kedua, dipakai untuk nama profesi, nama tempat, dan nama benda majemuk. | Rangkaian ditulis polos berdampingan seperti dalam bahasa Indonesia, sehingga hubungan antar kata hilang dan frasanya terbaca janggal bagi penutur Turki. | Peserta menamai benda di sekitar rumah dan jalan dekat rumahnya memakai pola rangkaian, mulai dari nama ruangan sampai nama halte. |
|---|
| Ragam sopan dan ungkapan harian | Perbedaan sapaan akrab dan sapaan hormat, gelar yang diletakkan sesudah nama depan, serta ungkapan harian yang dipakai di tempat kerja dan di rumah. | Peserta memakai sapaan akrab kepada dosen atau petugas karena terasa hangat, padahal di Turki pilihan itu terbaca lancang. | Setiap latihan percakapan dijalankan dua kali, satu versi akrab dan satu versi hormat, sehingga peserta merasakan pergeseran akhiran kata kerjanya. |
|---|