4,9/5 · 114 ulasan · Pemula sampai baca naskah

Les Privat Aksara Pegon di Jogja

Les aksara Pegon Jogja bersama Edufio: mengenal tujuh huruf tambahan Jawa, enam tanda vokal, sampai membaca kitab gundhul, bersama tutor yang datang ke alamatmu atau mengajar lewat kelas daring.

Les Privat Aksara Pegon di Jogja
4,9/5114 ulasan
11.000+tutor terseleksi
1-on-1seorang tutor, seorang siswa
Ke rumahmuJogja, tempat mana pun pilihan Anda, atau online
Garansibebas ganti tutor
Assessmentdipetakan sebelum mulai

Aksara Pegon privat di Jogja itu apa?

Les aksara Pegon Jogja bersama Edufio: mengenal tujuh huruf tambahan Jawa, enam tanda vokal, sampai membaca kitab gundhul, bersama tutor yang datang ke alamatmu atau mengajar lewat kelas daring.

Tanya Dulu, Baru Daftar
Peserta
Santri, mahasiswa, guru, umum, anak usia sekolah
Titik mulai
Dari nol huruf, atau lanjutan bagi yang sudah mengaji
Durasi sesi
1 sampai 2 jam
Sesi per bulan
4 sampai 28 sesi
Jadwal
Fleksibel, disepakati ulang tiap pekan
Tempat belajar
Rumah, pondok, kampus, tempat pilihanmu, atau daring
Wilayah
Sleman, Bantul, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, Gunungkidul
Biaya
Mulai Rp86.375 per jam
Ulasan
4,9 dari 114 ulasan peserta
Bahasa pengantar
Indonesia, boleh diselingi Jawa
Cara mulai
Isi formulir /daftar, atau chat WhatsApp Edufio
Pembayaran
Transfer bank atau dompet digital
Ganti tutor
Boleh diminta kapan saja tanpa biaya

Cocok untuk siapa

Les aksara Pegon Jogja ini cocok untukmu jika

  • Kamu lancar mengaji, lalu berhenti begitu kitab dimaknai dengan tulisan Jawa di bawah barisnya.

  • Ada catatan atau kitab peninggalan keluarga yang belum pernah bisa kamu baca sendiri.

  • Tugas akhirmu memakai naskah Islam Jawa sebagai sumber utama dan menuntut alih aksara yang rapi.

  • Kamu mengajar di madrasah diniyah dan memerlukan urutan pengenalan huruf Pegon yang runtut.

  • Kamu menulis kaligrafi dan ingin menambah huruf Pegon yang benar kaidah sambungnya.

  • Kamu tinggal di Kulon Progo atau Gunungkidul dan memerlukan pengampu Pegon lewat kelas daring.

  • Kamu ingin mulai dari nol, termasuk bila huruf hijaiyah pun belum kamu kenali.

Peta belajar Pegon

Delapan tahap materi les aksara Pegon Jogja dan titik rawannya

Urutan ini jadi kerangka les aksara Pegon Jogja, dan tutor memotongnya sesuai titik berangkat peserta. Yang sudah lancar mengaji biasanya melompati dua tahap pertama dalam satu pertemuan.

  • Rangka huruf hijaiyah

    Tahap 1

    Pengenalan 28 huruf Arab sebagai rangka dasar Pegon, beserta huruf yang berbagi bentuk dan hanya dibedakan letak titiknya.

    Titik rawan

    Peserta menghafal nama huruf tanpa mengenali bentuknya, sehingga saat huruf muncul di tengah kata ia tidak dikenali lagi.

    Cara kami mendampingi

    Tutor melatih pengenalan lewat potongan kata, tidak lewat tabel berurutan, supaya huruf selalu ditemui dalam keadaan bersambung.

  • Tujuh huruf tambahan Jawa

    Tahap 2

    Ca, nga, pa, ga, nya, dha, dan tha: asal bentuknya, jumlah titik, dan letak titik yang membedakannya dari huruf Arab induknya.

    Titik rawan

    Nga dan ga tertukar karena rangkanya mirip, dan pa terbaca fa saat titiknya ditulis terlalu rapat di tulisan tangan.

    Cara kami mendampingi

    Kartu huruf dipakai tiap awal sesi selama dua pekan, disusul dikte kata Jawa pendek yang sengaja memuat huruf yang sedang rawan.

  • Bentuk sambung awal tengah akhir

    Tahap 3

    Empat wajah tiap huruf, huruf yang menolak disambung ke kiri, dan cara huruf tambahan Jawa mengikuti aturan huruf asalnya.

    Titik rawan

    Peserta memutus sambungan di tengah kata supaya tulisannya terlihat rapi, dan hasilnya justru terbaca sebagai dua kata berbeda.

    Cara kami mendampingi

    Latihan menyalin kalimat pendek dengan garis bantu, lalu dibaca ulang oleh peserta sendiri pada sesi berikutnya.

  • Enam tanda vokal Pegon

    Tahap 4

    Fathah, kasrah, dan dhammah, ditambah tiga tanda khas Jawa untuk e taling, e pepet, dan bunyi o.

    Titik rawan

    Kebiasaan mengaji membuat setiap fathah dibaca a, sehingga kata berbunyi pepet keluar salah dan artinya bergeser.

    Cara kami mendampingi

    Latihan pasangan kata yang rangka hurufnya sama dibaca bergantian sampai peserta sendiri yang menangkap bacaan keliru.

  • Membaca teks berharakat

    Tahap 5

    Bacaan bertahap atas teks yang seluruh vokalnya ditulis: doa harian, bacaan anak, dan salinan pelajaran madrasah.

    Titik rawan

    Peserta membaca terlalu cepat demi kelancaran, lalu melewati tanda vokal dan menebak dari bentuk katanya saja.

    Cara kami mendampingi

    Tutor meminta bacaan pelan berjeda per kata dulu, kecepatan dinaikkan hanya setelah bacaan pelan terbukti bersih.

  • Membaca Pegon gundhul

    Tahap 6

    Membaca tulisan tanpa tanda vokal, memulihkan bunyi dari konteks kalimat dan dari perbendaharaan kata Jawa peserta.

    Titik rawan

    Kosakata Jawa yang tipis membuat peserta macet meski hurufnya sudah dikenali, dan kemacetan ini sering disalahartikan sebagai gagal membaca.

    Cara kami mendampingi

    Bacaan dipilih dari topik yang akrab bagi peserta, dan kata baru dicatat sebagai daftar pribadi yang tumbuh tiap sesi.

  • Simbol makna gandul

    Tahap 7

    Penanda utawi, iku, sopo, dan ing, arah tulisan yang menjuntai ke kiri bawah, serta cara membaca kitab dan maknanya bergantian.

    Titik rawan

    Peserta menghafal penanda tanpa memahami kedudukan kata yang ditandainya, sehingga penanda itu tidak menolong saat kalimat memanjang.

    Cara kami mendampingi

    Tiap penanda dikenalkan bersama contoh kalimat pendek, dan tutor menandai kapan peserta perlu menambah dasar nahwu.

  • Naskah tangan dan alih aksara

    Tahap 8

    Membaca salinan naskah lama, mengenali kebiasaan tangan penyalin, dan menyalin isinya ke huruf Latin secara konsisten.

    Titik rawan

    Alih aksara ditulis dengan pilihan ejaan yang berubah-ubah di dalam satu dokumen, dan hasilnya sulit dipakai ulang untuk penelitian.

    Cara kami mendampingi

    Peserta menyusun pedoman alih aksara pribadi di awal, lalu tutor memeriksa konsistensinya di tiap halaman yang dikerjakan.

Kelebihan kelas kami

Alasan keluarga memilih les Aksara Pegon kami

  • Berangkat dari huruf yang sudah kamu kuasai

    Sesi pertama mengukur apa yang sudah terbaca. Yang lancar mengaji langsung masuk ke tujuh huruf tambahan Jawa; yang belum mengenal hijaiyah mulai dari rangka huruf dan cara menyambungnya.

  • Tangan dilatih sejak pertemuan pertama

    Menulis Pegon dilatih dengan pena di kertas bergaris, bergerak dari kanan ke kiri, sampai bentuk awal, tengah, dan akhir keluar tanpa perlu dipikirkan lagi.

  • Naskah yang benar-benar ingin kamu baca

    Catatan kitabmu sendiri, halaman kitab pondok, atau foto naskah keluarga dipakai sebagai bahan latihan, sehingga kemampuan yang tumbuh langsung menempel ke keperluanmu.

  • Satu tutor mendengar satu bacaan

    Tutor menyimak bacaanmu kata demi kata dan membetulkan vokal yang meleset di hari itu juga, sebelum bacaan keliru sempat mengeras jadi kebiasaan.

  • Pengampu yang akrab dengan kitab bermakna gandul

    Tutor Pegon Edufio datang dari lingkungan pondok dan kajian naskah, jadi mereka mengenal simbol penanda kedudukan kalimat serta kebiasaan penulisan yang berbeda antar pesantren.

  • Jam sesi menyesuaikan jadwal ngaji dan kuliah di Jogja

    Sesi Pegon bisa ditaruh sesudah asar, malam hari selepas jamaah isya, atau akhir pekan, mengikuti agenda pondok dan jadwal kampusmu.

Nama baik kami

4,9/5

rating dari 114 ulasan wali & siswa

11.000+
tutor terverifikasi
1-on-1
fokus ke satu siswa
30.000+
siswa didampingi

Mulai Pendaftaran

Ulasan apa adanya

Saya bisa mengaji sejak kecil, tapi makna gandul di kitab selalu saya lewati. Sekarang saya membacanya sendiri.

Nashwa A.Santri di Kotagede

Jalan belajar

Dari huruf pertama sampai membaca naskah Pegon sendiri

Perkiraan les aksara Pegon Jogja berikut memakai dua pertemuan tiap pekan, masing-masing sembilan puluh menit. Peserta yang berlatih pendek setiap hari biasanya sampai lebih cepat.

  1. Sesi pemetaan

    Tutor menyimak bacaanmu, memeriksa tulisan tangan, dan menanyakan naskah apa yang ingin kamu baca. Dari situ urutan materi disusun.

  2. Tujuh huruf tambahan terkunci

    Ca, nga, pa, ga, nya, dha, dan tha dikenali di segala posisi, termasuk saat titiknya ditulis rapat oleh tangan orang lain.

  3. Tangan mulai patuh

    Menyalin kalimat pendek tanpa memutus sambungan, dengan tinggi huruf yang seragam dan jarak antar kata yang terbaca.

  4. Teks berharakat tuntas

    Doa harian, bacaan anak, dan salinan pelajaran madrasah dibaca lancar, termasuk kata yang memuat bunyi pepet dan taling.

  5. Gundhul mulai terbaca

    Tulisan tanpa vokal terbaca dengan bantuan konteks kalimat. Daftar kata baru milikmu sendiri sudah cukup tebal untuk dipakai.

  6. Naskah pilihanmu sendiri

    Catatan simbah, kitab pondok, atau salinan manuskrip dibaca mandiri, dan tutor tinggal berperan sebagai pemeriksa hasil.

Tutor Terverifikasi

Siapa yang mengajar Aksara Pegon

Telaten menghadapi anak, tertib menyiapkan materi, dan setia hadir di tiap sesi.

  • Amri K., Pendidikan Agama Islam · UMY — tutor les aksara pegon Jogja Edufio

    Amri K.

    Pendidikan Agama Islam · UMY
  • Amirah M., PAI · UIN Sunan Kalijaga — tutor les aksara pegon Jogja Edufio

    Amirah M.

    PAI · UIN Sunan Kalijaga
  • Ana S., Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah · UIN Sunan Kalijaga — tutor les aksara pegon Jogja Edufio

    Ana S.

    Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah · UIN Sunan Kalijaga
  • Andrea R., Ilmu Hadis · UIN Sunan Kalijaga — tutor les aksara pegon Jogja Edufio

    Andrea R.

    Ilmu Hadis · UIN Sunan Kalijaga

Cakupan

Yang kamu bawa pulang dari les aksara Pegon Jogja

  • Kartu tujuh huruf tambahan

    Kartu kecil berisi huruf khas Jawa lengkap dengan bentuk awal, tengah, dan penutupnya, dipakai untuk pengulangan pendek tiap hari.

  • Lembar latihan bergaris tiga

    Lembar tulis dengan garis bantu, disusun bertingkat dari huruf tunggal, kata pendek, sampai kalimat bersambung.

  • Daftar penanda makna gandul

    Ringkasan utawi, iku, sopo, dan ing beserta contoh kalimatnya, dipakai saat mulai membuka kitab yang sudah dimaknai.

  • Rekaman bacaan tutor

    Bacaan tutor atas teks latihanmu direkam supaya bisa diputar ulang di rumah, terutama untuk bagian yang vokalnya masih rawan.

  • Naskah latihan bertingkat

    Salinan teks berharakat sampai gundhul, dipilih dari topik yang memang kamu perlukan, jadi latihannya tidak terasa asing.

  • Catatan koreksi tiap sesi

    Daftar huruf, vokal, dan kata yang masih meleset, ditulis ulang di awal sesi berikutnya sebelum materi baru dibuka.

Testimoni

Kata keluarga tentang les aksara pegon

Catatan simbah akhirnya terbaca. Tutor mengajari saya memotret halamannya lebih dulu supaya tinta yang memudar tetap kelihatan di layar.

Rafel H.Peserta kelas daring di Wates, Kulon Progo

Tugas alih aksara saya jauh lebih cepat setelah tujuh huruf tambahan itu dilatih sampai bentuknya keluar sendiri saat menulis.

Dhimas P.Mahasiswa di Sleman

Aksara Pegon itu apa, dan dari mana namanya

Aksara Pegon adalah huruf Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Jawa. Namanya diambil dari kata Jawa pego, yang berarti menyimpang atau tidak lazim, karena huruf yang dirancang untuk bahasa Arab dipinjam untuk bahasa yang bunyinya berbeda jauh.

Tulisannya berjalan dari kanan ke kiri seperti tulisan Arab pada umumnya. Yang berbeda ada di dalamnya: bahasa yang dibaca adalah bahasa Jawa, lengkap dengan tembung, ater-ater, dan panambang yang tidak dikenal tata bahasa Arab. Karena itu orang yang lancar mengaji belum tentu langsung bisa membaca Pegon, dan orang yang fasih berbahasa Jawa tetap memerlukan waktu untuk mengenali hurufnya.

Pegon berbeda dari aksara Jawa hanacaraka, yang bentuk hurufnya sama sekali lain dan dibaca dari kiri ke kanan. Ia juga berbeda dari huruf Jawi yang dipakai untuk bahasa Melayu, meski keduanya berangkat dari abjad yang sama. Pembeda terbesarnya ada pada huruf tambahan yang dibutuhkan bahasa Jawa dan tidak diperlukan bahasa Melayu.

Tujuh huruf yang ditambahkan supaya bahasa Jawa muat

Abjad Arab punya 28 huruf. Bahasa Jawa memerlukan tujuh bunyi yang tidak ada di antaranya: ca, nga, pa, ga, nya, dha, dan tha. Tujuh huruf inilah yang ditambahkan, dan tujuh huruf ini pula yang paling cepat memisahkan orang yang bisa mengaji dari orang yang benar-benar bisa membaca Pegon.

Sebagian huruf tambahan itu dipinjam dari abjad Persia, yang lebih dulu menghadapi persoalan serupa. Sebagian lagi dibentuk dengan menambah titik pada huruf Arab yang rangkanya paling dekat. Pa lahir dari fa dengan tiga titik, ca dari jim dengan tiga titik, nga dari ain dengan tiga titik, dan nya dari ya dengan tiga titik.

Dha dan tha punya cerita sendiri. Keduanya bunyi khas Jawa yang tidak dimiliki lidah Arab, dan penandanya diambil dari dal serta ta yang diberi tanda tambahan. Di tulisan tangan lama, tanda tambahan ini kerap ditulis tergesa sampai nyaris hilang, dan itulah satu sebab naskah tua terasa jauh lebih sulit daripada teks cetak.

Biar kamu tahu

Enam pintu masuk belajar aksara Pegon di Jogja

  • Santri madrasah diniyah

    Sudah lancar hijaiyah, lalu tersendat begitu kitab dimaknai dengan tulisan Jawa. Latihannya dipusatkan di huruf tambahan dan simbol kedudukan kalimat.

  • Mahasiswa filologi dan sejarah

    Perlu membaca naskah Islam Jawa untuk tugas akhir. Fokusnya pada tulisan tanpa harakat serta kebiasaan tangan penyalin yang berbeda-beda.

  • Guru madrasah dan pengajar TPA

    Mengajarkan Pegon kepada murid, sehingga yang dibutuhkan adalah urutan pengenalan huruf yang runtut dan cara mengoreksi tulisan anak.

  • Pewaris naskah keluarga

    Menyimpan catatan, primbon, atau kitab peninggalan simbah dan ingin membacanya sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain.

  • Pegiat kaligrafi dan karya visual

    Menulis Pegon untuk karya, jadi bentuk huruf, jarak, dan kaidah sambung dilatih lebih ketat daripada kecepatan membacanya.

  • Pemula tanpa dasar huruf Arab

    Belum mengenal hijaiyah sama sekali. Jalurnya lebih panjang di awal: rangka huruf dulu, lalu sambungannya, baru vokal dan bacaan.

Enam tanda vokal Pegon, dan kenapa pepet paling sering meleset

Tulisan Arab mengenal tiga tanda vokal: fathah untuk bunyi a, kasrah untuk i, dan dhammah untuk u. Bahasa Jawa memerlukan lebih dari itu, sehingga Pegon memakai enam tanda. Tiga tambahan menandai bunyi e taling, e pepet, dan o.

E taling ditulis dengan menggandengkan huruf ya dan fathah. Bunyi o ditulis dengan menggandengkan wau dan fathah. E pepet ditandai garis kecil bergelombang di atas huruf. Aturannya terdengar sederhana saat dijelaskan di papan, dan terasa lain begitu dipakai membaca kalimat panjang.

Titik rawan yang paling sering muncul memang di pepet. Pembaca yang terbiasa mengaji cenderung membaca setiap fathah sebagai a, sehingga kata Jawa berbunyi pepet keluar dengan bunyi keliru dan artinya ikut bergeser. Tutor menanganinya lewat latihan pasangan kata: dua kata yang rangka hurufnya sama dibaca bergantian sampai telinga peserta sendiri yang menolak bacaan yang salah.

Ringkasnya

Empat wajah teks Pegon dan tingkat kesulitannya

  • Pegon berharakat

    Buku pelajaran, bacaan anak, dan salinan doa. Seluruh vokal ditulis, jadi bacaan hampir tidak menyisakan ruang untuk menebak.

  • Pegon gundhul

    Tulisan tanpa tanda vokal. Pembaca memulihkan bunyinya dari perbendaharaan kata Jawa yang sudah ia kuasai, jadi kemampuan bahasa ikut menentukan kecepatan baca.

  • Kitab bermakna gandul

    Arti bahasa Jawa menggantung di bawah tiap kata Arab, ditulis miring turun ke kiri, disertai penanda kedudukan kata di dalam kalimat.

  • Naskah tulisan tangan lama

    Tangan tiap penyalin berbeda, tinta memudar, dan ejaannya belum seragam. Tingkat tersulit, dan biasanya menjadi sasaran akhir peserta yang meneliti naskah.

Makna gandul: cara pondok Jawa menurunkan arti ke bawah baris

Di pesantren Jawa, kitab berbahasa Arab dibaca dengan terjemahan yang digantung di bawah tiap katanya, ditulis miring turun ke kiri memakai huruf Pegon. Kebiasaan ini disebut makna gandul, dan di banyak tempat disebut juga jenggotan karena bentuk tulisannya menjuntai seperti jenggot.

Yang membuatnya rapi adalah kata penanda di depan tiap arti. Utawi menandai mubtada, iku menandai khabar, sopo menandai fail, dan ing menandai maful. Santri yang hafal penanda itu bisa membuka kembali kitabnya bertahun-tahun kemudian dan tetap tahu kedudukan tiap kata di dalam kalimat, sekalipun penjelasan kiainya sudah lama terlupa.

Karena penanda itu pula metode ini dikenal dengan sebutan utawi iki iku. Bagi banyak peserta di Jogja, kemampuan membaca makna gandul adalah alasan sebenarnya mereka belajar Pegon. Huruf dan vokal adalah jalan menuju ke sana, dan sesi les disusun supaya jalan itu ditempuh tanpa berlama-lama di latihan yang tidak mereka perlukan.

Menulis Pegon dengan tangan: arah, sambungan, dan jarak

Membaca dan menulis Pegon dilatih beriringan, karena tangan yang pernah membentuk sebuah huruf jauh lebih cepat mengenalinya saat huruf itu muncul di halaman. Latihan menulis dimulai dari arah: pena bergerak dari kanan ke kiri, dan hampir semua orang yang baru mulai memerlukan beberapa sesi sebelum arah itu terasa wajar.

Setiap huruf punya empat wajah: berdiri sendiri, di awal kata, di tengah, dan di akhir. Tujuh huruf tambahan Jawa mengikuti aturan sambung yang sama dengan huruf asalnya, jadi peserta yang sudah mengenal bentuk sambung Arab tinggal menambahkan titiknya di tempat yang benar.

Koreksi tutor paling sering jatuh pada tiga perkara: tinggi huruf yang naik turun, jarak antar kata yang terlalu rapat, dan titik yang ditulis tergesa sampai tiga titik terbaca seperti satu titik. Ketiganya tampak sepele di lembar latihan, dan ketiganya membuat tulisan sendiri sulit dibaca ulang sepekan kemudian.

Detail

Perlengkapan menulis Pegon yang benar-benar dipakai di sesi

  • Buku tulis bergaris tiga

    Garis bantu menjaga tinggi huruf tetap seragam. Di kertas polos huruf naik turun dan titiknya jadi sulit dibaca ulang.

  • Pena berujung sedang

    Ujung 0,5 sampai 0,7 milimeter cukup untuk memisahkan satu titik dari tiga titik. Ujung terlalu tebal membuat nga dan ga tampak serupa.

  • Salinan halaman kitabmu

    Satu halaman yang memang ingin kamu baca lebih berguna daripada setumpuk lembar latihan yang tidak pernah kamu buka lagi.

  • Ponsel untuk memotret naskah

    Naskah keluarga difoto dengan cahaya dari samping supaya guratan tinta yang menipis tetap terbaca di layar tutor.

  • Kartu tujuh huruf tambahan

    Huruf khas Jawa ditulis di kartu kecil dan dibawa ke mana pun. Pengulangan pendek tiap hari mengalahkan latihan panjang sepekan sekali.

Naskah Pegon yang bisa kamu temui di Jogja

Jogja menyimpan naskah Pegon dalam jumlah yang jarang disadari orang yang tinggal di dekatnya. Perpustakaan Pura Pakualaman merawat sekitar 251 naskah kuno beraksara Jawa dan Pegon, koleksi keluarga besar Paku Alam. Naskah kelompok Islam di dalamnya, yang memuat fikih, hadis, serta kumpulan doa harian, umumnya ditulis tanpa harakat.

Museum Sonobudoyo menyimpan koleksi manuskrip yang sudah didigitalkan, sehingga pengunjung dapat membacanya lewat komputer di ruang perpustakaan tanpa menyentuh kertas aslinya. Di luar dua tempat itu, naskah Pegon hidup di lemari pondok, di rak madrasah diniyah, dan di rumah keluarga Jogja yang menyimpan catatan simbah.

Kemampuan membaca mengubah arti kunjungan ke tempat-tempat itu. Tanpa kemampuan tersebut, sebuah halaman lama hanya tampak sebagai gambar. Dengan kemampuan itu, halaman yang sama menyebutkan nama, tanggal, doa, atau nasihat yang ditulis seseorang jauh sebelum kita sempat membacanya.

Kelas Pegon daring untuk Kulon Progo dan Gunungkidul

Sebaran pengampu Pegon di Daerah Istimewa Yogyakarta memang tidak merata. Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta punya banyak pilihan tutor yang bisa datang ke alamat peserta. Kulon Progo dan Gunungkidul jauh lebih tipis, sehingga kelas daring dijadikan jalur utama bagi peserta di Wates, Sentolo, Wonosari, dan sekitarnya.

Sesi daring untuk Pegon berjalan berbeda dari kelas bahasa pada umumnya. Kamera ponsel diarahkan ke kertas, sehingga tutor menyaksikan guratan pena selagi huruf sedang dibentuk, jauh sebelum tulisannya rampung. Halaman kitab atau foto naskah dikirim lebih dulu supaya tutor sempat memilih bagian mana yang dibaca pada sesi itu.

Papan tulis digital dipakai untuk menjajarkan tulisan peserta dengan bentuk baku hurufnya, sisi demi sisi. Rekaman bacaan tutor disimpan supaya bisa diputar ulang saat peserta berlatih sendiri di antara dua pertemuan.

Pegon hari ini: papan ketik, font, dan pekerjaan yang belum rampung

Pegon masih dipakai setiap hari di pesantren Jogja, di catatan santri, dan di sebagian penerbitan keagamaan berbahasa Jawa. Yang belum rampung adalah dukungan teknologinya. Sebagian karakter Pegon belum terdaftar penuh di Unicode, tata letak papan ketik bakunya belum ada, dan pedoman alih aksara ke huruf Latin belum seragam.

Kementerian Agama sudah menggelar pembahasan standar nasional untuk font, papan ketik, serta alih aksara Pegon, dan beberapa aplikasi papan ketik Pegon kini bisa dipasang di ponsel. Alat bantu semacam ini berguna untuk menyalin dan menerbitkan, dan hasil terbaiknya keluar di tangan orang yang sudah bisa membaca lebih dulu.

Bagi peserta les, keadaan itu punya satu akibat praktis: kemampuan mata dan tangan tetap menjadi dasar. Aplikasi mempercepat pengetikan, sementara halaman naskah tetap menuntut pembacanya mengenali bentuk huruf yang ditulis manusia, dengan tinta yang tidak rata dan ejaan yang belum seragam.

Berapa lama sampai bisa membaca Pegon sendiri?

Pertanyaan yang paling sering masuk sebelum sesi pertama adalah berapa lama sampai bisa membaca sendiri. Jawabannya bergantung pada titik berangkat, dan jaraknya cukup lebar.

Peserta yang sudah lancar mengaji biasanya mengunci tujuh huruf tambahan dalam tiga sampai empat sesi. Tanda vokal serta bacaan teks berharakat menyusul sekitar delapan sampai sepuluh sesi. Membaca gundhul menuntut perbendaharaan kata Jawa, sehingga waktunya lebih panjang, umumnya tiga sampai empat bulan dengan dua pertemuan tiap pekan.

Peserta yang belum mengenal hijaiyah menempuh jalur lebih panjang di awal, sekitar enam sampai delapan sesi tambahan untuk mengenal rangka huruf dan bentuk sambungnya. Sesudah itu kecepatannya menyamai peserta lain. Membaca kitab bermakna gandul adalah cerita terpisah: di sana peserta juga memerlukan dasar nahwu, dan tutor menyampaikannya sejak awal supaya harapanmu berpijak di tempat yang benar.

Semua keraguan soal les aksara pegon, dijawab satu-satu

Apa itu les aksara Pegon Jogja?

Les aksara Pegon Jogja adalah pendampingan privat untuk membaca dan menulis Pegon, yaitu huruf Arab yang dipakai menuliskan bahasa Jawa. Tutor Edufio datang ke alamatmu di wilayah DIY atau mengajar lewat kelas daring, dengan materi yang disusun dari titik kemampuanmu saat ini.

Siapa saja yang bisa mengikuti les aksara Pegon Jogja di Edufio?

Program ini terbuka untuk santri dan pelajar madrasah, mahasiswa yang meneliti naskah, guru yang mengajarkan Pegon, pewaris catatan keluarga, pegiat kaligrafi, serta siapa pun yang ingin mulai dari nol. Anak usia sekolah juga bisa ikut dengan sesi yang lebih pendek.

Materi apa saja yang diajarkan di les aksara Pegon Jogja?

Materinya berjenjang: rangka huruf hijaiyah, tujuh huruf tambahan Jawa, bentuk sambung, enam tanda vokal Pegon, membaca teks berharakat, membaca gundhul, penanda makna gandul, lalu naskah tulisan tangan beserta alih aksaranya ke huruf Latin.

Apakah les aksara Pegon Jogja tersedia privat satu tutor satu peserta?

Ya, seluruh sesi Pegon berjalan privat. Satu tutor mendampingi satu peserta, sehingga bacaanmu bisa disimak kata demi kata dan huruf yang masih tertukar langsung dibetulkan pada sesi yang sama.

Bagaimana cara mendaftar les aksara Pegon Jogja?

Isi formulir di halaman daftar, atau kirim pesan WhatsApp ke tim Edufio. Ceritakan titik kemampuanmu, wilayahmu di DIY, dan jam yang paling longgar. Tim kami mencarikan tutor yang cocok, lalu jadwal sesi pertama disepakati bersama.

Apa bedanya aksara Pegon dengan aksara Jawa hanacaraka?

Keduanya menuliskan bahasa yang sama dengan sistem huruf yang sepenuhnya berbeda. Aksara Jawa punya bentuk huruf sendiri dan dibaca dari kiri ke kanan. Pegon meminjam huruf Arab, dibaca dari kanan ke kiri, dan menambahkan tujuh huruf untuk bunyi Jawa yang tidak ada di abjad Arab.

Apa bedanya Pegon dengan huruf Jawi?

Jawi memakai abjad Arab untuk bahasa Melayu, Pegon untuk bahasa Jawa. Bahasa Jawa punya bunyi yang tidak dimiliki bahasa Melayu, seperti dha dan tha, sehingga Pegon memerlukan huruf tambahan yang tidak ada di Jawi.

Saya belum bisa membaca huruf hijaiyah, apakah tetap bisa ikut les Pegon?

Bisa. Peserta tanpa dasar huruf Arab memulai dari rangka huruf dan bentuk sambungnya, biasanya enam sampai delapan sesi tambahan di awal. Sesudah tahap itu, kecepatan belajarnya menyamai peserta yang sudah lancar mengaji.

Berapa lama sampai bisa membaca Pegon gundhul?

Dengan dua pertemuan tiap pekan, peserta yang sudah lancar mengaji umumnya membaca teks berharakat dalam delapan sampai sepuluh sesi, dan mulai membaca gundhul pada bulan ketiga sampai keempat. Kecepatannya sangat ditentukan perbendaharaan kata Jawa peserta.

Apakah tutor les aksara Pegon Jogja bisa datang ke rumah di Sleman atau Bantul?

Bisa. Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta adalah wilayah dengan pilihan tutor Pegon paling banyak, sehingga kunjungan ke rumah, pondok, kampus, atau tempat lain yang kamu pilih paling mudah diatur di sana.

Bagaimana kalau saya tinggal di Gunungkidul atau Kulon Progo?

Untuk dua kabupaten itu, kelas daring adalah jalur utama karena pengampu Pegon yang berdomisili di sana jumlahnya paling terbatas. Kamera diarahkan ke kertas supaya tutor tetap melihat gerak penamu, dan naskah difoto lalu dikirim sebelum sesi dimulai.

Berapa biaya les aksara Pegon Jogja per jam?

Biaya les aksara Pegon Jogja mulai Rp86.375 per jam, dengan durasi sesi satu sampai dua jam. Jumlah sesi bisa diatur mulai empat sampai dua puluh delapan sesi per bulan, jadi besarnya mengikuti kepadatan jadwal yang kamu pilih.

Apakah anak usia sekolah bisa ikut les aksara Pegon Jogja?

Bisa, terutama anak yang sudah mengenal huruf hijaiyah di TPA. Sesinya dibuat lebih pendek, latihan menulis diperbanyak, dan bacaannya dipilih dari doa harian yang sudah akrab di telinga mereka.

Apakah les Pegon sekaligus mengajarkan nahwu dasar?

Penanda makna gandul seperti utawi, iku, sopo, dan ing memang dikenalkan bersama kedudukan katanya di dalam kalimat. Pendalaman nahwu berjalan sebagai program terpisah, dan tutor akan menyampaikannya sejak awal bila kamu memerlukannya.

Apakah Edufio Jogja menyediakan bahan latihan menulis Pegon?

Ya. Peserta menerima kartu tujuh huruf tambahan, lembar latihan bergaris tiga yang bertingkat, daftar penanda makna gandul, serta salinan naskah latihan dari teks berharakat sampai gundhul.

Mau lancar aksara pegon? Mulainya dari sini

Tim kami membalas cepat di WhatsApp. Tanyakan apa saja soal les aksara pegon dulu, keputusan belakangan.