| Mengenali korban yang butuh CPR | Memeriksa respons dengan menepuk bahu dan memanggil, lalu menilai napas lewat naik turun dada selama tidak lebih dari sepuluh detik. | Napas gasping berupa tarikan kasar sesekali, kadang terdengar seperti mendengkur, sering dibaca sebagai napas normal sehingga penolong memilih menunggu. | Instruktur memperdengarkan contoh suara napas gasping dan meminta peserta memutuskan dalam hitungan detik, berulang kali, sampai keraguan itu habis. |
|---|
| Memanggil bantuan dan menyiapkan lokasi | Menelepon 119, menyebut alamat dengan patokan yang dikenali pengemudi ambulans, menugaskan satu orang mengambil AED, dan membuka jalan masuk. | Berteriak minta tolong ke arah kerumunan tanpa menunjuk siapa pun membuat setiap orang menganggap orang lain yang akan bergerak. | Peserta melatih kalimat perintah yang menyebut ciri orangnya, lalu menyusun patokan alamat rumah atau kantornya sendiri sebelum sesi berakhir. |
|---|
| Kompresi dada pada dewasa | Tumit tangan di separuh bawah tulang dada, siku terkunci, bahu tegak lurus di atas tangan, kedalaman 5 sampai 6 sentimeter, laju 100 sampai 120 per menit. | Siku menekuk dan badan yang tetap bertumpu di dada korban membuat dinding dada gagal kembali penuh, sehingga jantung tidak sempat terisi darah lagi. | Manekin berindikator hanya berbunyi ketika kedalaman tercapai dan dada naik sempurna, jadi peserta mendengar sendiri kapan tekanannya sudah benar. |
|---|
| Napas bantuan dan pelindung wajah | Membuka jalan napas dengan menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, memberi dua embusan masing-masing sekitar satu detik sampai dada terlihat naik. | Meniup terlalu kuat dan terlalu lama mendorong udara ke lambung, memancing muntah, sekaligus memotong waktu kompresi lebih panjang daripada yang disadari. | Manekin memperlihatkan perut yang ikut menggembung saat embusan berlebihan, dan instruktur menghitung jeda tanpa kompresi memakai penghitung waktu. |
|---|
| Pergantian penolong dan waktu tangan menempel | Berganti penolong tiap dua menit, aba-aba pergantian yang disiapkan sebelum jeda, dan menjaga waktu tanpa kompresi sesingkat mungkin. | Penolong bertahan sendirian karena merasa masih kuat, padahal kedalaman tekanannya sudah menurun jauh sebelum rasa lelah itu terasa di lengan. | Peserta melihat catatan kedalaman miliknya sendiri melorot pada menit kedua, lalu melatih pergantian yang memakan waktu di bawah lima detik. |
|---|
| Memakai AED | Menyalakan alat, mengeringkan dada basah, melepas plester obat, menempel bantalan di dada kanan atas dan sisi kiri bawah ketiak, lalu menekan tombol kejut saat diminta. | Berhenti dan memperhatikan wajah korban sesudah kejut diberikan. Jeda beberapa detik itu membuang keuntungan yang baru saja diberikan alat. | Skenario dijalankan mengikuti hitungan suara alat, dan instruktur mengukur jarak waktu antara kejut dan tekanan berikutnya. |
|---|
| CPR pada anak dan bayi | Anak usia satu tahun sampai pubertas ditekan satu atau dua telapak tangan sedalam kira-kira sepertiga tebal dada; bayi ditekan dua jari atau dua ibu jari melingkari dada. | Memakai tenaga dewasa pada dada bayi, atau sebaliknya menekan terlalu ringan karena takut mencederai, sehingga darah tidak terdorong sama sekali. | Manekin bayi terpisah dipakai sejak pertemuan keempat, dan peserta menekan bergantian sampai tangannya menemukan sendiri batas yang pas. |
|---|
| Korban tenggelam dan kekurangan oksigen | Kasus tenggelam, sumbatan jalan napas berat, dan keracunan dimulai dari napas bantuan lebih dulu karena akar masalahnya kekurangan oksigen. | Menerapkan urutan dewasa apa adanya di pantai atau kolam renang membuat menit pertama terpakai untuk perkara yang bukan penyebab utamanya. | Skenario disusun memakai lokasi yang benar-benar didatangi peserta: kolam penginapan di Sleman, pantai selatan, atau sungai tempat susur gua. |
|---|
| Tersedak pada dewasa anak dan bayi | Membedakan sumbatan ringan dan berat, lima tepukan punggung disusul lima hentakan perut pada dewasa dan anak, serta lima tepukan punggung dan lima tekanan dada pada bayi. | Langsung menghentak perut korban yang masih sanggup terbatuk kuat justru mengganggu mekanisme tubuh yang sedang bekerja mengeluarkan benda itu. | Peserta melatih penilaian batuk dan suara napas lebih dulu, memakai manekin tersedak, lalu mengulang sampai keputusannya keluar cepat. |
|---|
| Setelah korban kembali bernapas | Memiringkan korban ke posisi pemulihan, menjaga jalan napas tetap terbuka, memantau napasnya sampai petugas tiba, dan menyerahkan keterangan kejadian dengan runtut. | Meninggalkan korban yang sudah bernapas dalam posisi telentang, sehingga muntahan atau pangkal lidah kembali menutup jalan napasnya. | Sesi ditutup dengan latihan memiringkan tubuh dan menyusun laporan singkat: waktu korban roboh, lama kompresi, dan jumlah kejut yang sempat diberikan. |
|---|