4,9/5 · 115 ulasan · Kelas 3 SD sampai profesional
Les Privat Critical Thinking di Jogja
Les Critical Thinking Jogja untuk anak sekolah sampai orang dewasa. Tutor melatih cara membongkar argumen, menimbang bukti, dan menyusun kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Mulai Rp100.000 per sesi.
- 4,9/5115 ulasan
- 11.000+tutor lolos kurasi
- 1-on-1seorang tutor, seorang siswa
- Ke rumahmuJogja, tempat mana pun pilihan Anda, atau online
- Garansitukar tutor gampang
- Assessmentdipetakan sebelum mulai
Tahap demi tahap
Empat bulan pertama les Critical Thinking Jogja, sesi demi sesi
Perkiraan ini memakai ritme dua pertemuan per pekan, ritme yang paling sering dipilih keluarga Jogja. Siswa yang mengambil satu pertemuan per pekan menempuh tahap yang sama dengan tempo dua kali lebih panjang.
- Sesi 1
Sesi pemetaan
Tutor membawa tiga teks pendek dan satu butir literasi. Yang dicatat adalah cara siswa membaca serta alasan di balik tiap jawabannya.
- Sesi 2 sampai 4
Membongkar argumen
Siswa mampu menuliskan klaim penulis dan dua alasan pendukung dari bacaan sepanjang tiga ratus kata, tanpa bantuan pertanyaan pemandu.
- Sesi 5 sampai 8
Menimbang bukti
Empat pertanyaan sumber dipakai tanpa perlu diingatkan. Grafik serta persentase mulai dibaca dengan kecurigaan yang sehat.
- Sesi 9 sampai 12
Mengenali lompatan berpikir
Sesat pikir ditemukan pada bahan yang siswa setujui, dan letaknya bisa ditunjukkan tanpa perlu menyebut nama istilah.
- Sesi 13 sampai 16
Menerapkan ke sasaran
Latihan diarahkan ke target nyata: butir ASPD, Penalaran Umum UTBK, esai beasiswa, mosi debat, atau laporan pekerjaan.
- Lanjutan
Merawat kebiasaan
Pertemuan berkala tiap dua pekan dengan teks yang makin panjang, ditambah lembar rubrik untuk dikerjakan mandiri di sela sekolah.
Bandingkan
Bandingkan cara belajar critical thinking di Jogja
| Aspek yang dibandingkan | Les Critical Thinking Privat EdufioKe rumah di Jogja | Kursus Critical Thinking Kelompok | Belajar Critical Thinking Sendiri |
|---|---|---|---|
| Perhatian tutor saat belajar critical thinking | Tercurah ke satu siswa | Terpecah ke satu kelas | Sendirian saja |
| Materi critical thinking disesuaikan level siswa | Disusun dari hasil tes awal | Satu materi untuk satu kelas | Ditebak sendiri |
| Tutor critical thinking bisa diganti | Diganti lewat admin, tanpa biaya | Mengikuti pengajar kelas | Tidak berlaku |
| Jadwal menyesuaikan keluarga di Jogja | Anda yang memilih hari dan jam | Jadwal ditentukan kelas | Bebas, tetapi mudah tertunda |
| Pemetaan kebutuhan critical thinking di awal | Sesi pertama dipakai memetakan | Langsung masuk materi | Tidak ada |
| Latihan praktik critical thinking terarah | Dipilih dari kelemahan Anda | Seragam | Berburu sendiri |
Critical Thinking jadi lebih dekat, di tempat pilihan keluarga
Belajar critical thinking fokus satu tutor satu siswa, di rumah, di tempat pilihan Anda, atau online, jadwal fleksibel.
Mulai PendaftaranCakupan
Yang diterima siswa les Critical Thinking Jogja selama program berjalan
Rencana belajar tertulis
Disusun sesudah sesi pemetaan, memuat posisi awal siswa di rubrik dan sasaran yang hendak dicapai dalam tiga bulan.
Bank teks latihan sesuai usia
Bacaan, butir literasi, iklan, dan potongan percakapan yang dipilih tutor khusus untuk jenjang siswa.
Rubrik empat tingkat
Ukuran yang sama dipakai dari pertemuan pertama sampai terakhir, sehingga perubahannya benar-benar terlihat.
Lembar uji dua pekanan
Satu teks baru dikerjakan berkala, disimpan, lalu dibandingkan dengan lembar siswa sendiri di periode sebelumnya.
Catatan sesi untuk orang tua
Berisi pertanyaan terbaik siswa, kekeliruan yang berulang, serta latihan mandiri sampai pertemuan berikutnya.
Latihan mandiri lima belas menit
Tugas ringan antar sesi yang bisa dikerjakan di sela kegiatan sekolah tanpa menambah beban belajar.
Pendampingan lomba bila diminta
Persiapan debat, karya tulis ilmiah, atau esai beasiswa disusun mundur dari tanggal seleksinya.
Pilihan pertemuan daring
Porsi latihan tetap sama, dipakai banyak keluarga di Kulon Progo dan Gunungkidul sebagai jalur utama.
Yang jadi andalan
Alasan keluarga memilih les Critical Thinking kami
Tutor berlatar filsafat, hukum, dan sains
Pengampu datang dari kampus DIY seperti UGM, UNY, UII, UAD, dan Sanata Dharma. Sebagian pernah menjadi juri debat, pembina karya tulis ilmiah, atau pelatih penalaran di tempat kerja.
Satu tutor satu siswa
Berlatih berargumen menuntut lawan bicara yang menyesuaikan diri setiap menit. Di kelas besar, siswa yang paling perlu berlatih justru paling jarang mendapat giliran bicara.
Bahan diambil dari dunia siswa
Teks yang dibedah berasal dari bacaan sekolah, soal ujian, iklan, unggahan, sampai keputusan yang sedang dihadapi siswa pada pekan itu.
Kemajuan diukur dengan rubrik
Empat tingkat kemampuan yang dinilai dari lembar kerja siswa sendiri, dengan ringkasan yang dikirim ke orang tua setiap akhir bulan.
Jadwal mengikuti keluarga
Sesi tersedia pagi sampai malam termasuk akhir pekan, dengan tempat belajar yang Anda tentukan sendiri.
Penyesuaian tutor terbuka
Cara mengajar yang banyak bertanya tidak langsung cocok untuk setiap siswa. Bila tiga sesi awal terasa tidak nyambung, tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan.
Cocok untuk siapa
Les Critical Thinking Jogja pas untuk keadaan berikut
Anak menguasai rumus dan hafalan, lalu tersendat begitu masuk soal cerita dan soal literasi
Siswa kelas 6 atau kelas 9 yang menyiapkan ASPD dan butuh terbiasa dengan bacaan panjang
Siswa SMA yang menyiapkan UTBK-SNBT, terutama Penalaran Umum dan bagian literasinya
Anggota tim debat, karya tulis ilmiah, atau olimpiade yang perlu menyusun argumen lebih rapi
Mahasiswa yang sedang membangun kerangka argumen skripsi atau menulis esai beasiswa
Pelamar kerja yang menghadapi asesmen penalaran verbal dan logis di tahap awal seleksi
Karyawan yang harus menimbang proposal, data, dan rekomendasi sebelum mengambil keputusan
Orang tua yang ingin anaknya memeriksa dulu isi layar sebelum ikut membagikannya
Peta latihan
Dua belas keterampilan di les Critical Thinking Jogja dan titik rawannya
Urutan di bawah disusun dari yang paling mendasar. Sesi pemetaan menentukan siswa masuk di nomor berapa, sehingga tidak ada keluarga yang membayar untuk mengulang bagian yang sudah dikuasai.
| Bahasan | Yang dicakup | Titik rawan | Cara kami mendampingi |
|---|---|---|---|
| Struktur argumen (Fondasi) | Menandai kesimpulan penulis, memisahkan alasan pendukung, lalu menuliskan ulang seluruh argumen dalam dua baris. | Kalimat pertama dianggap kesimpulan. Penulis Indonesia justru sering menaruh klaim utamanya di paragraf terakhir. | Latihan berburu kata penanda: karena, sebab, akibatnya, jadi, dengan demikian. Begitu penanda ketemu, arah argumen langsung terbaca. |
| Asumsi yang tidak ditulis (Fondasi) | Menemukan hal yang harus benar supaya sebuah argumen berdiri, meski penulisnya tidak pernah menyebutkannya. | Siswa hanya menilai yang tertulis, sehingga argumen yang kalimatnya rapi otomatis terasa kuat. | Uji pembalikan: andaikan hal yang tidak disebut itu keliru, apakah kesimpulannya masih berdiri? Yang runtuh berarti asumsi. |
| Sesat pikir dalam bahasa sehari-hari (Paling sering dipakai) | Mengenali lompatan berpikir yang lazim di iklan, kolom komentar, dan perdebatan keluarga, sekaligus cara menanggapinya dengan tenang. | Nama istilah dihafal lalu dipakai melabeli lawan bicara. Kemampuan menunjuk letak kekeliruannya justru tidak ikut tumbuh. | Contoh dulu, nama belakangan. Siswa wajib menjelaskan letak lompatannya dengan kalimatnya sendiri sebelum istilah diperkenalkan. |
| Bukti dan sumber (Literasi media) | Menimbang kekuatan bukti: siapa yang mengumpulkan, seberapa banyak, kapan diambil, dan pihak mana yang berkepentingan atas hasilnya. | Kredibilitas dinilai dari tampilan dan jumlah pengikut. Tangkapan layar tanpa tautan sumber diterima begitu saja. | Empat pertanyaan tetap yang ditempel di lembar kerja, dipakai untuk semua sumber, termasuk sumber yang isinya sudah disetujui siswa. |
| Korelasi dan sebab akibat (Penalaran data) | Membedakan dua hal yang kebetulan berjalan beriringan dari hubungan sebab akibat yang benar-benar teruji. | Contoh klasiknya ada di dunia les sendiri: nilai siswa yang ikut bimbingan naik, lalu bimbingan disebut penyebabnya, padahal yang mendaftar memang siswa yang sudah tekun. | Latihan mencari faktor ketiga dan kelompok pembanding. Pertanyaannya selalu satu: dibandingkan dengan siapa? |
| Angka, persentase, dan grafik (Penalaran kuantitatif) | Membaca tabel serta grafik dengan sikap menguji: sumbu yang dipotong, skala yang tidak seragam, rata-rata yang menyembunyikan sebaran. | Persen dan poin persen dianggap sama. Kenaikan dari dua persen ke tiga persen disebut naik satu persen, padahal naik separuhnya. | Dua grafik dengan data identik tetapi skala berbeda disandingkan, lalu siswa menerangkan kenapa kesan yang muncul bisa berlawanan. |
| Deduksi, induksi, dan validitas (Logika) | Silogisme sederhana, perbedaan argumen yang valid dari kesimpulan yang benar, dan cara mematahkan kaidah dengan satu contoh tandingan. | Kekeliruan yang paling sering muncul: dari kalimat jika hujan maka jalan basah, ditarik kesimpulan jalan basah berarti hujan. Arah panahnya terbalik. | Diagram panah untuk setiap pernyataan bersyarat, lalu diuji dengan contoh tandingan yang harus dicari siswa sendiri. |
| Soal literasi dan penalaran ujian (Persiapan ujian) | Bentuk soal yang menuntut kesimpulan ditarik dari bacaan, dari butir bergaya ASPD kelas 6 dan kelas 9 sampai Penalaran Umum UTBK-SNBT. | Siswa memilih opsi yang benar menurut pengetahuannya di luar teks. Opsi itu terasa paling masuk akal, dan tetap dinilai salah karena teksnya tidak mendukung. | Aturan tunjuk baris: setiap jawaban wajib disertai letak dasarnya di bacaan. Jawaban tanpa penunjuk dihitung belum selesai dikerjakan. |
| Menulis argumen (Esai dan uraian) | Menyusun tesis satu kalimat, alasan bertingkat, bukti pendukung, dan satu paragraf yang menjawab sanggahan terkuat. | Esai berisi tumpukan contoh tanpa pernyataan yang dipertahankan, dan penutupnya mengulang pembuka dengan kata yang diganti-ganti. | Kerangka ditulis sebelum kalimat. Satu tesis, tiga alasan, satu sanggahan yang dijawab, baru dikembangkan menjadi paragraf utuh. |
| Debat dan penyusunan sanggahan (Lomba dan kelas) | Membedah mosi, mendefinisikan istilah di awal, menyusun kasus, serta membalas di bagian yang paling menentukan hasil. | Peserta membalas pilihan kata lawan dan melewatkan alasan yang menopangnya, sehingga waktu habis di bagian yang tidak menentukan. | Latihan mengulang argumen lawan dalam versi terkuatnya sampai lawan mengakui rumusan itu benar, baru sanggahan disusun. |
| Pemecahan masalah dan keputusan (Sehari-hari) | Merumuskan masalah sebelum mencari jalan keluar, memisahkan gejala dari sebab, menyusun kriteria dan bobot sebelum memilih. | Jalan keluar diambil di menit pertama, lalu seluruh sisa waktu dipakai membenarkannya. Masalahnya sendiri tidak pernah dirumuskan. | Pohon masalah dan lima pertanyaan kenapa, dilanjutkan tabel kriteria sederhana untuk pilihan yang taruhannya besar. |
| Memeriksa cara berpikir sendiri (Sikap) | Bias yang paling sering bekerja diam-diam: mencari pembenaran, terpaku pada angka yang pertama terdengar, dan menilai dari contoh yang paling mudah diingat. | Siswa cepat menemukan bias orang lain dan buta terhadap biasnya sendiri. Tanpa bagian ini, kemampuan tadi malah membuatnya lebih keras kepala. | Catatan keputusan pribadi ditambah tugas menulis argumen terkuat pihak yang tidak ia sukai. Latihan paling tidak nyaman, dan paling berdampak. |
Tutor Terverifikasi
Tutor Critical Thinking Edufio
Profil di bawah hanyalah sebagian; tim kami memilihkan yang paling cocok untuk anakmu.

Fachrie H.
Sosiologi · UGM
Elya R.
Bimbingan Dan Konseling · UNY
Fajar H.
Kesehatan Masyarakat · UAD
Dina F.
Komunikasi Dan Penyiaran Islam · UIN Sunan Kalijaga
Tempat ujiannya
Di mana kemampuan ini benar-benar dinilai
Berpikir kritis jarang punya mata pelajaran sendiri, tetapi nilainya keluar di banyak tempat. Berikut ujian dan seleksi yang paling sering ditemui keluarga di Jogja.
ASPD kelas 6 dan kelas 9
Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah, ujian khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang hasilnya ikut dipakai dalam seleksi ke jenjang berikutnya.
Strategi tutor
Membiasakan mata dengan bacaan panjang sejak semester pertama, ditambah aturan menunjuk baris pendukung untuk setiap jawaban yang dipilih.
Penalaran Umum UTBK-SNBT
Bagian Tes Potensi Skolastik yang menguji penarikan kesimpulan dari teks, tabel, dan pola, dengan porsi hafalan yang sangat tipis.
Strategi tutor
Membedah soal dari arah kesimpulan. Cari dulu apa yang diminta, baru masuk ke bacaan dengan pertanyaan yang sudah jelas.
Literasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Menuntut pembaca menangkap gagasan utama, sikap penulis, serta simpulan yang bisa dipertanggungjawabkan dari teks yang panjang.
Strategi tutor
Menandai kalimat penanda dan meringkas tiap paragraf dalam tiga kata sebelum menyentuh satu pun pilihan jawaban.
Pengetahuan Kuantitatif
Membaca angka, tabel, dan grafik lalu menilai kesimpulan mana yang benar-benar didukung oleh datanya.
Strategi tutor
Mengubah angka menjadi kalimat lebih dulu. Soal data yang sudah bisa dibaca sebagai kalimat biasa jarang menyisakan jebakan.
Asesmen penalaran dalam seleksi kerja
Sejumlah perusahaan dan lembaga memakai tes penalaran verbal serta logis pada tahap awal seleksi pelamar.
Strategi tutor
Latihan pernyataan bersyarat dan soal berbentuk premis dengan kesimpulan, dikerjakan dengan batas waktu yang sengaja diperketat.
Debat, karya tulis, dan esai beasiswa
Seleksi yang menilai mutu argumen secara langsung, dari mosi debat sekolah sampai esai motivasi pendaftaran beasiswa.
Strategi tutor
Menyusun kasus lengkap dengan bagian yang mengakui kekuatan pihak lain, sebab bagian itulah yang paling sering membedakan nilai.
Amanah para wali
Kesan wali selepas beberapa sesi
Awalnya saya kira ini kelas debat. Ternyata anak saya justru dilatih membaca pelan dan menunjuk bagian teks yang menjadi dasar jawabannya. Nilai soal literasinya ikut naik.
Saya ikut sebagai orang dewasa karena harus menghadapi asesmen penalaran di seleksi kerja. Tutornya tidak pernah memberi kunci jawaban, dia meminta saya menjelaskan langkah berpikir saya.
Rumah saya di Gunungkidul jadi semua pertemuan berjalan daring. Bahannya dibagikan di layar dan kami menandai teks bersama, jadi tidak ada bagian latihan yang terasa berkurang.
Skripsi saya berhenti di bab dua karena kerangka argumennya berantakan. Empat pertemuan dipakai membongkar ulang alur alasannya, dan dosen pembimbing langsung menyetujui revisinya.
Bagian terberat justru tugas menulis argumen terkuat pihak yang tidak saya setujui. Setelah terbiasa, diskusi di kelas terasa jauh lebih tenang.
Apa yang sebenarnya dilatih di les Critical Thinking Jogja?
Berpikir kritis adalah kebiasaan memeriksa. Memeriksa klaim sebelum menyetujuinya, memeriksa bukti sebelum memakainya, dan memeriksa jalan pikiran sendiri sebelum mengambil keputusan. Kebiasaan itu bisa dilatih, dan latihannya berbentuk kerja atas teks, angka, serta percakapan.
Di sesi Edufio, siswa jarang diminta menghafal. Ia diminta menunjukkan bagian mana dari sebuah tulisan yang berisi kesimpulan, bagian mana yang berisi alasan, dan bagian mana yang sebenarnya hanya pengulangan dengan pilihan kata berbeda. Setelah itu ia menilai satu hal: apakah alasan tadi cukup untuk menopang kesimpulannya.
Bahan latihannya diambil dari dunia siswa sendiri. Anak kelas 5 memakai teks bacaan sekolah dan iklan jajanan. Siswa SMA memakai soal literasi, artikel opini, dan mosi debat. Mahasiswa memakai jurnal serta kerangka skripsinya. Karyawan memakai laporan dan proposal yang harus ia setujui atau tolak pekan itu.
Sasaran akhirnya sederhana dan bisa dilihat mata: siswa mampu menyatakan pendapat lalu menyebutkan dasarnya, dan mampu menyebut satu hal yang bisa membuat pendapatnya keliru.
Catatan tambahan
Tanda seorang siswa perlu latihan penalaran
Hafalan bagus, soal cerita jatuh
Rumus dikuasai, tetapi begitu soal berbentuk paragraf panjang ia bingung menentukan yang sebenarnya ditanyakan.
Jawaban uraian berhenti di pendapat
Ia menulis setuju atau tidak setuju, lalu berhenti. Bagian alasan diisi dengan mengulang kalimat soal.
Ramai dianggap benar
Sesuatu diterima karena banyak yang membagikan, sementara sumber pertamanya tidak pernah dicari.
Beda pendapat berakhir adu keras
Perdebatan naik ke nada suara karena ia belum punya cara menanggapi isi argumen lawan bicaranya.
Satu kalimat menentukan kesimpulan
Kalimat yang paling menarik perhatian sudah cukup membuatnya menyimpulkan isi seluruh bacaan.
Menghafal nama sesat pikir belum membuat orang berpikir kritis
Banyak kelas berpikir kritis berhenti di daftar istilah. Siswa hafal ad hominem, generalisasi tergesa, dan dilema palsu, lalu memakai nama itu sebagai label untuk memenangkan perdebatan. Yang tumbuh cuma kemampuan melabeli.
Urutan yang kami pakai berjalan terbalik dari itu: contoh dulu, nama belakangan. Siswa membaca komentar nyata, iklan, atau paragraf opini, lalu menjelaskan letak lompatannya dengan bahasanya sendiri. Kalimat seperti "dia membahas orangnya, alasan yang tadi diajukan tidak dijawab" sudah dihitung benar. Nama istilahnya baru diperkenalkan setelah siswa bisa menunjuk letaknya di tiga contoh berbeda.
Aturan kedua terasa lebih berat: siswa wajib menemukan sesat pikir pada tulisan yang ia setujui, minimal sesering ia menemukannya pada tulisan yang ia tolak. Latihan inilah yang paling banyak mengubah cara berpikir.
Aturan ketiga menutup celah yang tersisa. Melabeli lawan bicara tanpa menunjukkan letak kekeliruannya dihitung salah, sekalipun nama istilah yang dipakai kebetulan tepat.
Selengkapnya
Lompatan berpikir yang paling sering ditemui siswa
Yang dibahas orangnya
Isi argumen ditinggalkan, yang diperkarakan justru latar belakang, umur, atau cara bicara orang yang menyampaikannya.
Lawan versi lemah
Pendapat lawan disederhanakan sampai konyol lebih dulu, baru dibantah. Yang runtuh adalah versi buatan sendiri.
Dua pilihan padahal ada banyak
Persoalan disajikan seolah hanya punya dua jalan keluar, sehingga jalan ketiga tidak pernah ditimbang.
Beriringan dianggap sebab
Dua hal terjadi berdekatan, lalu satu dinyatakan penyebab yang lain tanpa memeriksa faktor lain yang ikut bekerja.
Jumlah pembagi ulang jadi bukti
Banyaknya orang yang meneruskan sebuah pesan dijadikan ukuran kebenaran, padahal keduanya perkara yang terpisah.
Kata kabur menopang kesimpulan
Satu kata dipakai dengan dua arti dalam satu argumen, dan pergeseran maknanya lolos tanpa disadari pembaca.
Satu contoh jadi aturan
Pengalaman satu orang dipakai menyimpulkan keadaan seluruh kelompok, sering kali dengan nada yang sangat yakin.
Sesi berjalan dengan tutor yang lebih banyak bertanya
Tutor berpikir kritis bekerja dengan menahan diri. Saat siswa salah menyimpulkan, jawaban benar tidak langsung diberikan. Yang datang justru pertanyaan lanjutan: dari mana kalimat itu kamu ambil, apa yang membuatmu yakin, apa yang harus benar lebih dulu supaya kesimpulanmu berdiri. Cara ini setua Sokrates dan sampai sekarang belum ada penggantinya yang lebih murah.
Pola tersebut membuat dua sampai tiga pertemuan pertama terasa lambat, terutama bagi siswa yang terbiasa menunggu koreksi. Sesudah itu kebiasaannya berbalik: ia mulai mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri sebelum tutor sempat bertanya.
Satu sesi 90 menit umumnya terbagi empat bagian. Dua puluh menit membedah satu teks pendek. Tiga puluh menit latihan tertulis. Dua puluh menit adu argumen lisan dengan tutor sengaja mengambil posisi yang berlawanan. Dua puluh menit terakhir dipakai siswa merangkum sendiri apa yang berubah dari pendapat awalnya.
Tutor mencatat tiga hal tiap pertemuan: pertanyaan terbaik yang muncul dari siswa, kekeliruan yang berulang, dan satu latihan untuk dikerjakan sebelum sesi berikutnya.
Pokok bahasannya
Bahan yang dibawa tutor les Critical Thinking Jogja ke setiap pertemuan
Teks pendek berlapis
Artikel opini, berita, atau paragraf pelajaran yang argumennya bisa dibongkar tuntas dalam sepuluh menit.
Butir literasi dan penalaran
Soal bergaya ASPD dan UTBK yang menuntut kesimpulan ditarik dari bacaan, dipilih sesuai jenjang siswa.
Angka, tabel, dan grafik
Data sederhana yang skalanya sengaja dipilih untuk melatih mata terhadap penyajian yang menyesatkan.
Iklan dan unggahan
Bahan yang paling akrab bagi siswa, sekaligus yang paling banyak memuat lompatan berpikir per kalimat.
Kasus keputusan nyata
Memilih ekstrakurikuler, memilih jurusan, menimbang tawaran kerja. Kerangkanya sama, taruhannya sungguhan.
Berpikir kritis di ujian yang dihadapi siswa Jogja
Di Daerah Istimewa Yogyakarta kemampuan ini punya tempat ujiannya sendiri. Siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP menghadapi ASPD, asesmen daerah yang hasilnya ikut dipakai dalam seleksi ke jenjang berikutnya. Soalnya menuntut siswa membaca teks lalu menarik kesimpulan darinya, dua pekerjaan yang justru dilatih di kelas ini.
Setingkat di atasnya, siswa SMA menghadapi UTBK-SNBT beserta Tes Potensi Skolastik di dalamnya. Penalaran Umum, literasi, dan pengetahuan kuantitatif sama-sama menguji cara berpikir, sementara porsi hafalannya tipis.
Pola kegagalan di dua ujian itu mirip. Siswa memilih jawaban yang benar menurut pengetahuannya di luar bacaan, sedangkan yang diminta adalah kesimpulan yang dasarnya bisa ditunjuk di dalam bacaan. Aturan yang kami latih sederhana: setiap jawaban harus bisa dijelaskan dengan menunjuk baris tertentu.
Musim latihannya mengikuti kalender pendidikan DIY. Januari sampai April adalah bulan tersibuk untuk ASPD dan UTBK, jadi keluarga yang mulai sejak Agustus punya ruang jauh lebih lega.
Keunggulan
Sasaran les Critical Thinking Jogja yang berbeda di tiap jenjang
Kerangkanya satu, tuntutannya menyesuaikan usia dan taruhan yang sedang dihadapi siswa.
Kelas 3 sampai 6 SD
Membedakan fakta dan pendapat, menemukan gagasan utama, menjelaskan alasan memilih jawaban. Untuk kelas 6, latihan diarahkan ke bentuk soal ASPD.
SMP
Menyusun alasan bertingkat, mengenali lompatan berpikir dalam percakapan, menulis paragraf pendapat yang alasannya bisa diperiksa orang lain. Kelas 9 mengarah ke ASPD.
SMA
Analisis argumen panjang, penalaran kuantitatif, latihan Penalaran Umum serta literasi UTBK-SNBT, ditambah persiapan debat dan karya tulis ilmiah.
Mahasiswa
Kerangka argumen skripsi, membaca jurnal dengan sikap menguji, menyusun esai beasiswa yang tesisnya berdiri jelas sejak paragraf pertama.
Pekerja dan pelamar kerja
Penalaran verbal serta logis untuk asesmen seleksi, menyusun rekomendasi kerja yang berdasar data, memeriksa proposal sebelum menyetujuinya.
Mengukur kemajuan tanpa nilai ulangan
Berpikir kritis tidak punya rapor. Kemajuannya karena itu mudah terasa samar, dan orang tua berhak menuntut ukuran yang jelas. Kami memakai rubrik empat tingkat yang dinilai dari lembar kerja tertulis siswa sendiri.
Setiap dua pekan siswa mengerjakan satu teks yang belum pernah ia lihat. Ia menuliskan klaim penulis, dua alasan pendukung, satu asumsi yang tidak tertulis, dan satu sanggahan terkuat yang bisa ia susun. Lembar itu disimpan, sehingga perkembangannya bisa disandingkan dengan tulisannya sendiri dua bulan sebelumnya.
Membandingkan siswa dengan dirinya sendiri terasa lebih jujur daripada membandingkannya dengan teman sekelas, dan biasanya lebih meyakinkan bagi orang tua. Lembar pertama umumnya masih berisi ringkasan isi bacaan. Lembar keempat atau kelima mulai berisi kalimat yang menguji penulisnya.
Laporan singkat dikirim ke orang tua tiap akhir bulan: tingkat rubrik terakhir, contoh jawaban yang menunjukkan kemajuan, dan satu hal yang masih perlu diulang di bulan berikutnya.
Garis besarnya
Rubrik empat tingkat yang dipakai menilai
Tingkat 1, menceritakan ulang
Siswa mampu meringkas isi bacaan dengan tepat, dan kemampuannya berhenti di titik itu.
Tingkat 2, memisahkan klaim dan alasan
Ia bisa menunjuk kalimat mana yang menjadi kesimpulan penulis dan kalimat mana yang menopangnya.
Tingkat 3, menguji
Ia menyebut asumsi yang tidak tertulis, menilai kecukupan bukti, dan mengenali lompatan berpikir di dalam teks.
Tingkat 4, menyusun tandingan
Ia menulis argumen balasan yang rapi, lengkap dengan bagian yang mengakui kekuatan pihak lain.
Peran orang tua sesudah tutor pulang
Kemajuan tercepat terjadi di keluarga yang memindahkan kebiasaan ini ke meja makan. Caranya murah dan tidak menuntut waktu khusus.
Saat anak menyampaikan pendapat, tanyakan satu hal saja: apa yang membuatmu berpikir begitu. Tahan diri untuk menilai jawabannya lebih dulu. Pertanyaan kedua yang berguna menyusul kemudian: apa yang bisa membuat pendapatmu keliru.
Pesan berantai di grup keluarga adalah bahan latihan yang selalu tersedia. Ajak anak mencari sumber pertamanya bersama-sama sebelum menyanggah isinya. Anak yang terbiasa menelusuri sumber sejak SD akan melakukannya sendiri saat SMA.
Satu hal perlu disiapkan orang tua. Latihan ini menular ke arah sebaliknya juga. Anak yang mulai menuntut alasan akan menuntutnya di rumah, termasuk untuk aturan yang selama ini berlaku tanpa penjelasan. Keluarga yang siap menjawab dengan alasan biasanya melihat hasilnya paling cepat.
Uraian
Latihan lima belas menit yang bisa dijalankan di rumah
Satu berita, tiga pertanyaan
Siapa yang berbicara, dari mana angkanya diambil, dan siapa yang diuntungkan bila pembaca percaya.
Tukar posisi
Anak menuliskan alasan terkuat pihak yang tidak ia sukai, sekuat mungkin, sebelum boleh membantahnya.
Cari kata kabur
Temukan satu kata dalam iklan yang artinya bisa ditarik ke mana-mana, lalu tanyakan artinya di kalimat itu.
Catatan keputusan
Sebelum memilih, tulis alasan dan perkiraan hasilnya. Buka lagi sebulan kemudian, lalu bandingkan.
Grafik tanpa judul
Tutup judul sebuah grafik, minta anak menebak isinya, kemudian bandingkan tebakannya dengan judul aslinya.
Les Critical Thinking Jogja bisa diikuti dari mana pun di DIY
Yogyakarta kebetulan kota yang tepat untuk pelajaran ini. Fakultas Filsafat UGM adalah satu-satunya fakultas filsafat di perguruan tinggi negeri Indonesia, dan kebiasaan berdiskusi di lingkungan kampus DIY membuat pengampu berlatar penalaran relatif mudah ditemukan di sini.
Tutor datang ke rumah untuk keluarga di Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Permintaan paling padat berkumpul di Depok, Ngaglik, Mlati, Gamping, Umbulharjo, Gondokusuman, Kasihan, Sewon, serta Banguntapan, sehingga jadwal di wilayah itu biasanya terisi paling cepat.
Untuk keluarga di Kulon Progo dan Gunungkidul, kelas online menjadi jalur utama. Alasannya jarak: tutor penalaran yang berdomisili di dua kabupaten itu paling sedikit, dan waktu tempuh memotong jam belajar yang seharusnya dipakai berlatih. Pelajaran ini termasuk yang paling nyaman dipindahkan ke layar, sebab bahannya teks dan percakapan. Tutor membagikan bacaan di layar, siswa menandai bagiannya, dan keduanya menulis di lembar yang sama.
Mahasiswa yang tinggal di sekitar UGM, UNY, UII, UAD, Sanata Dharma, atau UPN Veteran Yogyakarta sering memilih tempat lain: ruang baca kampus, Grhatama Pustaka di Banguntapan, atau kedai yang cukup tenang untuk berdiskusi panjang.
Telusuri juga
Halaman yang sering dibuka bersama les Critical Thinking Jogja
Urutannya
Cara memulai les Critical Thinking Jogja
Ceritakan gejalanya
Sebutkan jenjang siswa dan keluhan yang paling terasa: soal cerita, jawaban uraian, esai, debat, atau asesmen kerja. Konsultasi awal berlangsung tanpa biaya.
Jalani sesi pemetaan
Tutor membawa tiga teks pendek dan satu butir literasi, lalu menempatkan posisi awal siswa di rubrik. Hasilnya menjadi dasar rencana belajar.
Sepakati tutor dan jadwal
Anda memilih hari, jam, dan tempat belajar. Bila cara mengajarnya terasa kurang cocok, penggantian tutor bisa diminta tanpa biaya tambahan.
Mulai pertemuan pertama
Untuk kelas online, tautan pertemuan dikirim sebelum jam mulai. Untuk tatap muka, tutor tiba di alamat yang sudah disepakati.
Soal biaya, jadwal, dan tutor les critical thinking, kami jawab semua
Berapa biaya les Critical Thinking Jogja per sesi?
Apakah siswa perlu menyiapkan buku atau bahan sendiri?
Berapa lama sampai hasilnya terlihat?
Materi apa saja yang diajarkan di les Critical Thinking Jogja?
Untuk usia berapa les Critical Thinking Jogja cocok?
Apa bedanya les Critical Thinking Jogja dengan les mata pelajaran biasa?
Apakah program ini membantu persiapan ASPD dan UTBK?
Bagaimana kemajuan siswa diukur?
Bagaimana kualifikasi tutor les Critical Thinking Jogja?
Apakah tutor datang ke rumah?
Bagaimana untuk keluarga di Kulon Progo dan Gunungkidul?
Bisakah dipakai untuk persiapan lomba debat atau karya tulis?
Bagaimana kalau siswa merasa tidak cocok dengan tutornya?
Apakah dua anak dalam satu keluarga bisa belajar bersamaan?
Apakah orang tua boleh menyimak sesi?
Apa manfaatnya di luar nilai sekolah?
Rencana belajar critical thinking-mu, rapikan bareng kami
Konsultasi dulu tanpa biaya. Tutor critical thinking di Jogja menyesuaikan dengan jadwalmu.