4,5/5 · 230 ulasan · Anak hingga dewasa

Les Privat Gamelan di Jogja

Les gamelan Jogja: belajar saron, bonang, kendang, dan notasi kepatihan bersama tutor karawitan privat, dari pegangan tabuh sampai berani menabuh dalam ansambel.

Les Privat Gamelan di Jogja

Apa yang perlu diketahui soal Les Privat Gamelan di Jogja?

Les gamelan Jogja: belajar saron, bonang, kendang, dan notasi kepatihan bersama tutor karawitan privat, dari pegangan tabuh sampai berani menabuh dalam ansambel.

Tanya Dulu, Baru Daftar
  • 4,5/5230 ulasan
  • 11.000+tutor terverifikasi
  • 1-on-1privat seutuhnya
  • Ke rumahmuJogja, tempat mana pun pilihan Anda, atau online
  • Garansibebas ganti tutor
  • Assessmentdiukur di sesi awal

Ulasan apa adanya

Anak saya sudah bisa satu ladrang penuh tanpa berhenti setelah dua bulan. Yang paling berubah tangan kirinya, dulu bunyinya menumpuk terus.

Bima R.Wali siswa SD di Ngaglik, Sleman

Perbandingan

Privat, bimbel ramai-ramai, atau otodidak gamelan?

Aspek yang dibandingkanLes Gamelan Privat EdufioKe rumah di JogjaKursus Gamelan KelompokBelajar Gamelan Sendiri
Perhatian tutor saat belajar gamelanTercurah ke satu siswaTerpecah ke satu kelasSendirian saja
Materi gamelan disesuaikan level siswaDisusun dari hasil tes awalSatu materi untuk satu kelasDitebak sendiri
Fokus ke bagian gamelan yang paling sulitWaktu sesi penuh untuk bagian ituMengekor tempo kelasSekuat disiplin sendiri
Belajar gamelan di rumah Anda, JogjaPengajar datang ke alamat AndaAnda yang datang ke lokasiDi rumah, tanpa pendamping
Tutor gamelan bisa digantiDiganti lewat admin, tanpa biayaMengikuti pengajar kelasTidak berlaku
Materi gamelan disusun dari nolDirancang dari titik mulai AndaSeragamCari sendiri

Peta materi gamelan

Materi les gamelan Jogja dari pegangan tabuh sampai menabuh bersama

Urutan berikut adalah jalur yang paling sering dipakai tutor gamelan Edufio. Peserta yang datang dengan sasaran khusus, misalnya ingin menjadi pengendang, boleh melompati sebagian dan mendalami bagian lain lebih lama.

TopikCakupanTitik rawanPendampingan
Posisi duduk dan pegangan tabuhDuduk bersila menghadap instrumen, jarak badan ke wilahan, dan cara memegang tabuh supaya kepalanya jatuh tepat di tengah bilah.Genggaman terlalu erat membuat pergelangan kaku. Bunyinya jadi pendek dan kasar, dan lengan cepat lelah sebelum satu gongan selesai.Peserta diminta menjatuhkan tabuh dari ketinggian tetap tanpa mendorong, lalu mendengarkan sendiri selisih bunyi antara pukulan yang kaku dan yang lepas.
Mathet, mematikan bunyi wilahanTangan kiri menjepit wilahan sebelumnya persis pada saat tangan kanan memukul wilahan berikutnya, dijalankan mengikuti hitungan gatra.Jepitan datang terlalu cepat sehingga nada terpotong, atau terlambat sehingga dua nada berbunyi bersamaan dan alur lagunya berubah jadi dengung.Tempo diturunkan sampai satu pukulan tiap dua detik lalu dinaikkan hanya bila lima gatra berturut-turut bersih. Ada juga latihan tanpa bunyi: tangan kanan menggantung, tangan kiri tetap menjepit sesuai hitungan.
Membaca notasi kepatihanAngka nada, titik oktaf di atas dan di bawah, garis pemadat ketukan, pembagian gatra, serta tanda gong, kenong, dan kempul.Titik oktaf dibaca sebagai tanda panjang pendek, dan angka 4 dicari-cari di gendhing slendro padahal memang tidak dipakai di sana.Notasi dibaca keras-keras sambil ditabuh, satu gatra sekali jalan. Peserta menyalin notasinya sendiri dengan tangan supaya letak seleh terlihat sebagai pola.
Gatra, seleh, dan hitungan gonganMengelompokkan balungan empat-empat, mengenali nada tujuan pada ketukan keempat, dan berhitung sampai gong tanpa kehilangan tempat.Hitungan buyar di tengah ladrang tiga puluh dua ketukan, umumnya karena peserta menghitung pukulan satu per satu.Peserta berhitung per gatra memakai jari sehingga satu ladrang cukup dihitung delapan kali. Sesudah lancar, hitungan jari dilepas dan digantikan penandaan letak kenong yang terdengar.
Laras slendro dan laras pelogJarak nada kedua laras, nama tiap nada, dan pengenalan pathet beserta nada tujuan yang lazim di masing-masing pathet.Gendhing pelog pathet barang ditabuh memakai wilahan 1, padahal pathet itu memakai 7. Kekeliruan ini terdengar sepanjang gendhing dan kerap baru disadari setelah selesai.Wilahan yang tidak dipakai diberi penanda kecil pada pertemuan pertama pathet barang, lalu penandanya dilepas begitu tangan hafal jangkauannya.
Bentuk lancaran dan ketawangMenabuh satu gendhing utuh dari buka sampai suwuk sambil mengikuti letak kenong, kempul, dan gong.Peserta mempercepat sendiri menjelang gong karena merasa lagunya segera berakhir, sehingga tempo naik tanpa aba-aba kendang.Kendang tutor sengaja menahan tempo di dua gatra terakhir supaya peserta belajar menunggu. Bila perlu, gong dibunyikan tutor lebih dulu sebagai penanda.
Tabuhan bonang: pipilan, gembyangan, imbalMembunyikan nada yang mendahului balungan, memukul dua pencon seoktaf sekaligus, dan berselang-seling dengan bonang panerus.Bonang dimainkan bersamaan dengan balungan sehingga fungsinya sebagai penunjuk arah nada hilang dan ansambel terdengar rata.Peserta berlatih berdua dengan tutor: tutor menabuh balungan pelan, peserta membunyikan nada tujuan satu ketukan lebih awal, diulang sampai kebiasaan mendahului terbentuk.
Irama dan aba-aba kendangMengenali perubahan kerapatan tabuhan dari irama lancar ke tanggung, dadi, dan wiled, serta membaca aba-aba masuk, ngampat, dan suwuk.Peserta mengikuti penabuh yang bunyinya paling keras di ruangan, sementara aba-aba sesungguhnya datang dari kendang. Satu orang goyah, seluruh kelompok ikut.Latihan mendengar dijalankan dengan mata terpejam: peserta menyebutkan kapan kendang memberi aba-aba, tanpa menabuh apa pun.
Menabuh di dalam ansambelMenyeimbangkan keras lirih dengan penabuh lain, menjaga tempat sendiri di dalam susunan, dan masuk pada saat yang tepat.Peserta yang terbiasa berlatih sendirian menabuh terlalu keras dan mendahului, sehingga terdengar menonjol di antara penabuh lain.Sesi gabungan dijadwalkan berkala di tempat berperangkat penuh, dan tutor duduk di sebelah peserta pada gabungan pertama untuk memberi isyarat tanpa bersuara.
Vokal gerong dan sindhenPenempatan suara pada nada seleh, pengenalan cengkok dasar, dan pembagian teks wangsalan di dalam gendhing.Suara dilepas mengikuti balungan persis, padahal vokal berjalan dengan alurnya sendiri dan bertemu balungan pada nada tujuan.Latihan dimulai dari menirukan tutor frasa demi frasa tanpa iringan, baru ditempelkan ke gendhing setelah alurnya hafal.

Cakupan

Yang termasuk dalam les gamelan Jogja

  • Satu tutor mendampingi satu penabuh

    Satu pertemuan diisi satu peserta, sehingga pegangan tabuh, letak pukulan, dan jepitan tangan kiri dibetulkan pada saat kekeliruannya terjadi.

  • Pencarian tempat latihan bergamelan

    Peserta yang belum punya akses ke gamelan dicarikan tempat berlatih di sekitar wilayah tinggalnya.

  • Notasi tiap gendhing yang diajarkan

    Setiap gendhing yang dipelajari diberikan notasinya untuk disalin dan disimpan peserta.

  • Pemetaan kemampuan di pertemuan awal

    Sesi pertama dipakai memetakan pengalaman, sasaran, dan instrumen yang paling pas untuk memulai.

  • Catatan perkembangan tiap pertemuan

    Tutor mencatat capaian dan bagian yang perlu diulang, bisa dibaca peserta maupun orang tua.

  • Rekaman latihan

    Satu putaran direkam di akhir pertemuan memakai ponsel peserta sebagai patokan latihan mandiri.

  • Penggantian pengrawit bila cara mengajarnya belum pas

    Peserta dapat meminta tutor lain, dan permintaannya diproses tanpa syarat berbelit.

  • Jalur daring untuk wilayah bersupply tipis

    Peserta Kulon Progo dan Gunungkidul menjalankan latihan mingguan lewat layar dengan sesi luring berkala.

Kenali Tutornya

Tutor les gamelan Jogja

Telaten menghadapi anak, tertib menyiapkan materi, dan setia hadir di tiap sesi.

  • Aulia P., Sejarah · UGM — tutor les gamelan Jogja Edufio

    Aulia P.

    Sejarah · UGM
  • Agung B., Pendidikan Sejarah · UNY — tutor les gamelan Jogja Edufio

    Agung B.

    Pendidikan Sejarah · UNY
  • Avia R., Ilmu Sejarah · Universitas Airlangga — tutor les gamelan Jogja Edufio

    Avia R.

    Ilmu Sejarah · Universitas Airlangga
  • Aril K. — tutor les gamelan Jogja Edufio

    Aril K.

Satu jam Gamelan yang benar-benar fokus

Anak belajar di tempat yang paling membuatnya nyaman, dan Anda bisa mengikuti kemajuannya di tiap pertemuan.

Cocok untuk siapa

Les gamelan Jogja cocok untukmu kalau

  • CocokSekolahmu punya ekstrakurikuler karawitan dan kamu ingin mengejar ketertinggalan
  • CocokKamu ditugasi mendampingi karawitan sekolah padahal belum pernah memegang tabuh
  • CocokKamu ingin main gamelan tanpa harus memiliki perangkat sendiri di rumah
  • CocokKamu menari atau mendalang dan ingin memahami iringannya dari sisi penabuh
  • CocokKamu tinggal atau kuliah di Jogja dan ingin memakai kesempatan itu untuk belajar langsung
  • CocokKamu sudah bisa satu instrumen dan ingin pindah ke bonang, kendang, atau gender
  • CocokJadwalmu berubah-ubah sehingga kelas kelompok berjadwal tetap sulit diikuti
  • CocokKamu sedang menyiapkan pentas atau lomba karawitan dengan tenggat yang jelas

Tahap belajar gamelan

Perjalanan belajar gamelan dari pertemuan pertama sampai naik sajian

Perkiraan berikut memakai jadwal dua pertemuan per pekan berdurasi satu jam. Peserta anak umumnya lebih cepat pada bagian tangan dan lebih lambat pada bagian hitungan; peserta dewasa kerap sebaliknya.

  1. Pekan 1

    Kenal ruangan dan tabuh

    Tujuan peserta dipetakan, instrumen di ruangan diperkenalkan, dan latihan dimulai dari memukul satu nada berulang sampai bunyinya rata.

  2. Bulan 1

    Balungan bersih

    Jepitan tangan kiri berjalan sendiri, notasi kepatihan sudah terbaca sambil menabuh, dan satu lancaran utuh selesai tanpa berhenti.

  3. Bulan 2

    Masuk ketawang dan ladrang

    Hitungan gongan panjang mulai terjaga, letak kenong dan kempul dikenali dari bunyinya, dan tempo bisa dinaikkan tanpa bunyi menumpuk.

  4. Bulan 3 sampai 4

    Pindah instrumen

    Peserta mencoba bonang, kendang, atau gender sesuai minat, dengan penguasaan balungan sebagai bekal yang sudah kokoh.

  5. Sesudah dasar kokoh

    Sesi gabungan pertama

    Peserta menabuh bersama penabuh lain di perangkat lengkap. Di sinilah kebiasaan berlatih sendirian diuji: keras lirih, tempo, dan kesabaran menunggu aba-aba.

  6. Sasaran

    Sajian utuh

    Satu rangkaian gendhing dibawakan dari buka sampai suwuk, umumnya untuk acara sekolah, hajatan keluarga, atau pentas sanggar.

Kelebihan kelas kami

Kelebihan belajar Gamelan bersama Edufio

  • Tutor dicocokkan dengan instrumen yang kamu tuju

    Sasaran disebut saat mendaftar, misalnya balungan, bonang, kendang, atau vokal gerong. Tim mencarikan tutor yang mengajarkan bagian itu, lalu urutan materinya disusun ke arah sasaran tersebut.

  • Perangkat gamelan dicarikan tim

    Peserta yang belum punya akses ke gamelan tidak perlu membeli apa pun. Tim mencari tempat latihan berperangkat di sekitar wilayah tinggal peserta.

  • Sesi pertama langsung menabuh

    Penjelasan sejarah dan filosofi menyusul belakangan. Menit-menit awal dipakai memegang tabuh, memukul satu nada berulang, dan mendengar selisih bunyi yang bersih dengan yang kaku.

  • Notasi kepatihan dibaca sambil bermain

    Angka dibaca keras-keras satu gatra sekali jalan sambil tangan menabuh, sehingga hafalan tangan dan hafalan mata tumbuh bersamaan.

  • Patokan gaya Yogyakarta

    Tabuhan yang diajarkan mengikuti patokan yang dipakai kelompok karawitan sekolah dan sanggar di DIY, sehingga peserta langsung nyambung saat masuk latihan bersama.

  • Rekaman dan catatan tiap pertemuan

    Satu putaran direkam di akhir sesi memakai ponsel peserta, dan capaian dicatat supaya bagian yang perlu diulang terlihat jelas pekan berikutnya.

Ulasan Para Wali

Kata keluarga tentang les gamelan

Saya guru kelas dan ditunjuk mendampingi ekstrakurikuler karawitan. Tutornya memulai dari cara memegang tabuh, jadi saya tidak langsung disodori notasi. Sekarang sudah berani memimpin latihan anak-anak, walau temponya masih pelan.

Sefia W.Guru SD di Kasihan, Bantul

Latihan mingguan saya lewat layar karena di dekat rumah belum ada tutor karawitan. Notasi, cengkok, dan hitungan gongan semuanya jalan. Sebulan sekali saya berangkat ke Sleman untuk sesi dengan perangkat lengkap, dan bagian itu yang paling ditunggu.

Altamis N.Peserta di Kulon Progo

Saya kuliah di Jogja dan ingin bisa gamelan sebelum lulus. Tutornya sabar mengulang gatra yang sama sampai saya benar-benar bisa. Bulan kelima saya ikut sajian uyon-uyon di sanggar dan tidak tertinggal.

Riffat P.Mahasiswa di Depok, Sleman

Gamelan dimainkan bersama, dan les gamelan Jogja menyiapkan satu posisi lebih dulu

Satu perangkat gamelan Jawa lengkap berisi belasan instrumen yang dimainkan sepuluh sampai dua puluh orang sekaligus. Karena itu pertanyaan pertama di sesi awal selalu sama: kamu mau duduk di posisi mana? Penabuh saron mengurus balungan, kerangka lagu yang paling mudah diikuti pemula. Penabuh bonang mengurus hiasan yang berjalan mendahului balungan. Pengendang memegang tempo dan memberi aba-aba pindah irama. Tiga pekerjaan itu menuntut latihan berbeda sejak menit pertama.

Les privat memberi ruang yang sulit didapat di kelompok besar: satu tutor mengawasi satu pasang tangan. Pegangan tabuh yang keliru, pukulan yang meleset dari tengah wilahan, atau jepitan yang telat langsung dibetulkan sebelum menjadi kebiasaan. Di kelompok dua puluh orang, kekeliruan sekecil itu tenggelam di dalam bunyi bersama dan baru ketahuan setahun kemudian.

Peserta Edufio umumnya mulai dari saron atau demung, lalu pindah ke instrumen lain setelah tangan dan telinga terbiasa. Ada juga yang datang dengan tujuan tunggal, misalnya ingin menjadi pengendang kelompok karawitan sekolahnya. Jalur belajarnya disusun dari tujuan itu.

Selengkapnya

Instrumen gamelan Jawa dan tugas masing-masing

  • Saron dan demung

    Wilahan perunggu di atas kotak kayu, ditabuh dengan palu kecil. Memainkan balungan. Demung bernada paling rendah, saron barung di tengah, peking paling kecil dan paling rapat pukulannya.

  • Slenthem

    Wilahan tipis dengan tabung resonator di bawah tiap bilah. Bunyinya lembut dan panjang, mengiringi balungan satu oktaf lebih rendah.

  • Bonang barung dan panerus

    Deretan pencon berbentuk kuali kecil di atas rak tali. Memberi penunjuk arah nada lewat teknik pipilan, gembyangan, dan imbal yang dimainkan berpasangan.

  • Kendang

    Pemegang tempo sekaligus pemberi aba-aba masuk, pindah irama, dan berhenti. Kendang ageng, ciblon, dan ketipung punya tugas yang berlainan.

  • Kenong, kempul, dan gong

    Penanda struktur. Gong ageng menutup satu putaran gendhing, kenong membagi putaran itu jadi bagian yang sama panjang, kempul mengisi di antaranya.

  • Gender dan gambang

    Gender ditabuh dua tangan sekaligus sambil menjepit bilah yang sudah berbunyi; gambang berbilah kayu dan berjalan cepat. Keduanya diambil sesudah dasar balungan kokoh.

  • Rebab dan suling

    Rebab digesek dan kerap memimpin alur lagu; suling bambu mengisi ruang kosong di antara tabuhan. Keduanya tanpa nada tetap, jadi latihannya bertumpu pada pendengaran.

  • Sindhen dan gerong

    Vokal perempuan tunggal dan paduan suara laki-laki. Materinya cengkok, teks wangsalan, dan penempatan suara pada nada seleh.

Laras slendro dan pelog: dua tangga nada gamelan yang dipakai bergantian

Gamelan Jawa memakai dua sistem nada. Slendro berisi lima nada dalam satu oktaf dengan jarak yang terasa hampir rata. Pelog berisi tujuh nada dengan jarak lebar dan sempit yang berselang-seling. Satu perangkat lengkap menyediakan keduanya, berjajar di ruangan yang sama, dan pengrawit berpindah dari satu sisi ke sisi lain mengikuti gendhing yang dimainkan.

Di dalam masing-masing laras masih ada pathet, semacam wilayah nada yang menentukan nada mana yang jadi tujuan dan hiasan mana yang pantas dipakai. Slendro punya pathet nem, sanga, dan manyura. Pelog punya lima, nem, dan barang. Pathet barang memakai nada 7 dan meninggalkan nada 1; peserta yang belum tahu hal itu akan menabuh wilahan yang salah sepanjang gendhing.

Pelajaran pertama soal laras jarang berbentuk teori. Tutor menabuh satu deret nada slendro, lalu deret pelog, dan meminta peserta menirukan sambil menyebut namanya: barang, gulu, dhadha, lima, nem. Telinga mengenali jarak nadanya lebih dulu, penjelasannya menyusul di pertemuan berikutnya.

Membaca notasi kepatihan pada les gamelan Jogja tanpa hafalan semalam

Notasi gamelan Jawa ditulis dengan angka. Sistemnya disebut notasi kepatihan, disusun di lingkungan Kepatihan Surakarta pada awal abad ke-20, dan sampai hari ini dipakai hampir semua kelompok karawitan Jawa, termasuk di Yogyakarta.

Angka 1 sampai 6 mewakili nada slendro, angka 1 sampai 7 mewakili pelog. Titik di atas angka menaikkan satu oktaf, titik di bawah menurunkannya. Garis di bawah deretan angka memadatkan ketukan. Angka dikelompokkan empat-empat; satu kelompok disebut gatra, dan nada keempat di tiap gatra adalah nada tujuan yang disebut seleh. Letak gong, kenong, dan kempul ditulis sebagai tanda kecil di sekitar angka.

Cara tercepat menguasainya adalah membaca sambil menabuh, satu gatra dalam satu tarikan. Peserta menyebut angkanya keras-keras, memukul wilahannya, lalu mengulang gatra yang sama sampai tangan hafal lebih dulu. Hafalan mata menyusul di belakangnya. Dalam empat sampai enam pertemuan, sebagian besar peserta sudah bisa membaca satu gongan lancaran tanpa dituntun.

Keunggulan

Cara tutor gamelan Edufio menjalankan satu sesi

  • Sepuluh menit pertama untuk tangan

    Pukulan dan jepitan dilatih pada satu nada sebelum menyentuh gendhing. Pemanasan inilah yang menjaga bunyi tetap bersih ketika tempo dinaikkan.

  • Satu gatra sekali jalan

    Materi dipecah empat ketukan. Satu gatra diulang sampai lancar, baru disambungkan ke gatra berikutnya, lalu keduanya dijalankan bersambung.

  • Tempo dinaikkan bertahap

    Tutor menabuh bersama peserta di tempo lambat, lalu menarik tempo sedikit demi sedikit sambil mengamati bagian mana yang mulai tertinggal.

  • Rekaman pendek di akhir pertemuan

    Sesi ditutup dengan merekam satu putaran memakai ponsel peserta. Rekaman itu jadi patokan latihan mandiri sampai pertemuan berikutnya.

  • Notasi disalin dengan tangan

    Gendhing yang dipelajari disalin peserta ke buku sendiri, lengkap dengan tanda kenong dan kempul, supaya pola gatra terlihat sebagai bentuk.

  • Sasaran disebut di awal

    Tiap pertemuan dibuka dengan satu kalimat sasaran, misalnya menuntaskan satu gongan ladrang tanpa berhenti di tempo sedang.

Mematikan bunyi wilahan: teknik menabuh gamelan yang paling sering terlewat

Bunyi perunggu bertahan lama. Kalau wilahan yang sudah dipukul dibiarkan terus berdenging sementara wilahan berikutnya dipukul, bunyinya menumpuk dan lagunya hilang di dalam dengung. Karena itu tangan kiri punya pekerjaan sendiri: menjepit wilahan sebelumnya persis pada saat tangan kanan memukul wilahan berikutnya. Pengrawit menyebutnya mathet.

Gerakan itu terdengar sederhana dan hampir selalu jadi kesulitan terbesar pemula. Otak baru terbiasa menyuruh dua tangan mengerjakan hal yang sama; di sini keduanya bekerja bergantian dengan jeda satu ketukan. Anak kelas empat biasanya butuh dua sampai tiga pertemuan sampai gerakannya berjalan sendiri. Orang dewasa kadang lebih lama karena terlalu banyak berpikir.

Tutor Edufio menanganinya dengan menurunkan tempo sampai terasa berlebihan, kira-kira satu pukulan tiap dua detik, lalu menaikkannya hanya kalau lima gatra berturut-turut sudah bersih. Ada pula latihan tanpa bunyi: tangan kanan menggantung di udara, tangan kiri tetap menjepit sesuai hitungan. Latihan itu terlihat aneh dan hasilnya paling cepat.

Gamelan gaya Yogyakarta dan kenapa itu penting kalau belajar di Jogja

Karawitan Jawa tumbuh dalam beberapa gaya, dan dua yang paling sering dibandingkan adalah gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta. Perbedaannya terasa di banyak lapis: pilihan tabuhan bonang, isian kendang, tempo yang dipakai, sampai gendhing bernama sama yang susunan sajiannya berlainan. Gaya Yogyakarta umumnya digambarkan lebih tegas dan mantap, dengan tabuhan yang menempel dekat pada balungan.

Untuk peserta di Jogja, pilihan gaya menyangkut hal yang praktis. Kelompok karawitan sekolah di DIY, sanggar di Bantul dan Sleman, serta iringan tari di kota memakai patokan gaya Yogyakarta. Peserta yang berlatih dengan patokan lain akan terasa berbeda sendiri begitu masuk latihan bersama, dan penyesuaiannya memakan waktu berminggu-minggu.

Tutor Edufio yang mengajar di DIY memakai patokan gaya Yogyakarta di kelasnya. Kalau kamu punya alasan khusus untuk mendalami gaya Surakarta, misalnya akan bergabung dengan kelompok di luar DIY, sampaikan sejak pendaftaran supaya tim mencarikan pengrawit yang memang menguasainya.

Pokok bahasannya

Bentuk gendhing yang dipakai latihan gamelan pemula

  • Lancaran

    Putaran pendek, gong sering datang, tempo cepat. Bentuk pertama yang dipelajari hampir semua peserta karena hitungannya paling mudah dijaga.

  • Ketawang

    Enam belas ketukan satu gongan dengan dua kenong dan satu kempul. Temponya lebih lapang sehingga jepitan tangan kiri terlihat jelas benar salahnya.

  • Ladrang

    Tiga puluh dua ketukan satu gongan dengan empat kenong dan tiga kempul. Bentuk yang paling sering muncul di sajian uyon-uyon dan iringan tari.

  • Srepegan dan sampak

    Rapat dan cepat, dipakai mengiringi adegan ramai di pertunjukan wayang. Melatih kesiapan mengikuti aba-aba kendang yang datang tiba-tiba.

  • Gangsaran

    Satu nada diulang terus sementara kendang memimpin perubahan. Terlihat paling sederhana, sekaligus paling jujur memperlihatkan tempo yang goyah.

  • Uyon-uyon

    Susunan sajian berisi rangkaian gendhing yang dimainkan berurutan dalam satu pertemuan. Latihan menuju bentuk sajian ini jadi sasaran banyak kelompok.

Siapa yang ikut les gamelan Jogja?

Peminat gamelan di DIY jauh lebih beragam daripada yang biasa dibayangkan. Sebagian besar yang mendaftar ke Edufio masuk lima kelompok.

Pertama, siswa SD dan SMP yang sekolahnya punya ekstrakurikuler karawitan dan ingin mengejar ketertinggalan, atau sedang disiapkan untuk lomba tingkat kabupaten. Kedua, guru kelas yang mendadak ditugasi mendampingi ekstrakurikuler itu padahal belum pernah memegang tabuh. Ketiga, mahasiswa dari luar DIY yang kuliah di Jogja dan ingin memakai kesempatan tinggal di sini untuk belajar langsung dari sumbernya.

Keempat, orang dewasa yang bekerja dan mencari kegiatan akhir pekan. Kelompok ini paling sering meminta jadwal Sabtu pagi atau malam hari sesudah pukul 19.00. Kelima, peserta dari luar negeri yang sedang belajar atau tinggal sementara di Jogja dan ingin membawa pulang kemampuan yang benar-benar bisa dimainkan.

Kelima kelompok itu sulit diajar dengan satu urutan materi yang seragam, dan itulah alasan pertemuan pertama selalu dipakai untuk memetakan tujuan.

Tempat berlatih gamelan: perangkatnya berat dan itu mengubah cara les berjalan

Satu perangkat gamelan slendro dan pelog lengkap beratnya ratusan kilogram dan memerlukan ruangan tersendiri. Karena itu les gamelan tidak selalu berbentuk tutor datang membawa alatnya.

Ada tiga bentuk yang biasa dipakai peserta Edufio di DIY. Bentuk pertama, peserta sudah punya akses ke perangkat: rumah joglo keluarga, pendhapa kampung, sanggar tempat ia menari, atau sekolah tempat ia mengajar. Tutor datang ke tempat itu pada jam yang disepakati. Bentuk kedua, tim mencarikan tempat latihan berperangkat di sekitar wilayah peserta; pilihan terbanyak ada di Sleman dan Bantul karena di sanalah sanggar dan sekolah seni berkumpul. Bentuk ketiga, latihan berjalan di rumah dengan instrumen tunggal yang bisa dipindah, misalnya satu saron atau satu kendang, sementara perangkat penuh hanya dipakai pada sesi gabungan.

Sebelum pertemuan pertama dijadwalkan, tim menanyakan tiga hal: alamat peserta, akses ke perangkat, dan instrumen yang ingin didalami. Jawaban ketiganya menentukan tempat dan pengrawit yang dicarikan.

Garis besarnya

Tempat mendengar gamelan langsung di Jogja

  • Sekaten di Masjid Gedhe Kauman

    Dua perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta ditabuh berhari-hari menjelang Maulid Nabi. Laras dan cara tabuhnya berbeda dari gamelan sehari-hari.

  • Sajian karawitan di Kraton Yogyakarta

    Uyon-uyon digelar pada waktu tertentu di lingkungan kraton dan terbuka bagi penonton. Rujukan paling langsung untuk mendengar patokan gaya Yogyakarta.

  • Wayang kulit di Museum Sonobudoyo

    Pertunjukan rutin di sisi utara Alun-alun Utara, lengkap dengan pengrawit dan sindhen. Tempat paling mudah mengamati kerja kendang dari jarak dekat.

  • Sendratari Ramayana Prambanan

    Iringan gamelan untuk tari berdurasi panjang. Berguna bagi peserta yang tujuannya mengiringi tari di sanggar.

  • Kampus seni di Sewon, Bantul

    Institut Seni Indonesia Yogyakarta punya program karawitan, dan pentas mahasiswanya kerap terbuka untuk umum.

  • Festival gamelan tahunan Jogja

    Yogyakarta Gamelan Festival mempertemukan kelompok dari dalam dan luar negeri. Kesempatan mendengar gamelan diperlakukan dengan banyak pendekatan.

Kelas gamelan daring untuk peserta Kulon Progo dan Gunungkidul

Sebaran pengrawit di DIY tidak merata. Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta punya paling banyak tutor karawitan; Kulon Progo dan Gunungkidul paling sedikit. Untuk dua kabupaten itu kelas daring menjadi jalur utama, dan sebagian besar materi gamelan memang bisa berjalan lewat layar.

Yang berjalan baik secara daring: membaca notasi kepatihan, mengenali pathet, menghafal alur gendhing, melatih vokal gerong dan sindhen, membedah rekaman, serta menyiapkan catatan tabuhan sebelum latihan bersama. Peserta yang punya satu instrumen di rumah, misalnya saron atau kendang, bisa menabuh sambil diamati tutor dan dibetulkan posisi tangannya.

Yang tetap menuntut kehadiran: menyatu dengan ansambel, merasakan tarikan tempo kendang, dan menyeimbangkan keras lirih dengan penabuh lain. Karena itu peserta daring dari Wates, Sentolo, Wonosari, atau Playen umumnya menjadwalkan satu sesi luring per bulan di tempat berperangkat, sementara latihan mingguannya berjalan lewat layar.

Uraian

Latihan gamelan mandiri saat instrumennya tidak ada di rumah

  • Membaca notasi sambil mengetuk paha

    Angka dibaca keras-keras mengikuti pembagian gatra. Hitungan dan letak seleh terlatih tanpa menyentuh satu wilahan pun, dan bisa dikerjakan di mana saja.

  • Menghitung gongan dari rekaman

    Dengarkan gendhing yang sedang dipelajari, lalu catat pada ketukan berapa kenong dan kempul jatuh. Telinga mengenali kerangkanya sebelum tangan menyentuhnya.

  • Menirukan pola kendang di meja

    Tepukan tangan di permukaan meja sudah cukup untuk menghafal urutan aba-aba masuk, ngampat, dan suwuk beserta jaraknya.

  • Nembang balungan

    Menyanyikan balungan adalah kebiasaan lama pengrawit, dan hasilnya langsung terasa begitu peserta kembali duduk di depan saron.

  • Berlatih di instrumen sendiri

    Peserta yang punya saron atau kendang di rumah bisa langsung menabuh. Bunyi perunggu terdengar jauh, jadi di kampung padat seperti sebagian Kotagede dan Umbulharjo kesepakatan jam dengan tetangga biasanya diurus lebih dulu.

  • Menyalin ulang notasi gendhing

    Menyalin dengan tangan membuat pola gatra menempel lebih cepat daripada memotret layar, sekaligus menyiapkan catatan yang dipakai di pertemuan berikutnya.

Gamelan Jawa di telinga dunia dan rekaman Jogja yang dibawa Voyager

Pada 1977 NASA menyertakan piringan berisi bunyi bumi di dua wahana Voyager. Salah satu lagu di piringan itu adalah Ketawang Puspawarna, gendhing Jawa yang direkam Robert E. Brown bersama pengrawit Pura Pakualaman Yogyakarta. Sampai hari ini rekaman gamelan dari Jogja itu masih melaju di luar tata surya.

Perhatian dunia pada gamelan tumbuh jauh sebelumnya. Claude Debussy mendengar gamelan Jawa di pameran dunia Paris pada 1889, dan karyanya sesudah itu memakai warna nada yang terdengar asing bagi telinga Eropa saat itu. Sejumlah universitas di Amerika Serikat dan Inggris kemudian membangun kelompok gamelan sendiri lengkap dengan perangkatnya.

Pada Desember 2021 UNESCO menetapkan gamelan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Bagi peserta di Jogja, deretan pengakuan itu punya arti praktis: kemampuan menabuh gamelan berlaku jauh melewati batas kabupaten. Mahasiswa yang melanjutkan studi ke luar negeri kerap menemukan kelompok gamelan di kampus barunya dan langsung diterima karena sudah bisa main.

Apa yang perlu disiapkan sebelum sesi gamelan pertama?

Persiapan les gamelan lebih sedikit daripada dugaan kebanyakan orang. Tabuh, instrumen, dan buku notasi tersedia di tempat latihan, jadi peserta cukup datang.

Tiga hal tetap perlu disiapkan sendiri. Pertama, pakaian yang memungkinkan duduk bersila cukup lama; celana atau rok longgar jauh lebih nyaman daripada jin ketat, dan sesi satu jam pertama biasanya terasa di lutut. Kedua, buku catatan biasa untuk menyalin notasi. Menyalin dengan tangan membuat pola gatra lebih cepat menempel dibanding memotret layar. Ketiga, kesediaan mengikuti kebiasaan ruangan: alas kaki dilepas, instrumen tidak dilangkahi, dan tabuh dikembalikan ke tempatnya seusai latihan. Kebiasaan itu berlaku di hampir semua tempat berperangkat di DIY dan diperkenalkan tutor pada menit-menit awal.

Peserta anak sebaiknya diantar pada pertemuan pertama supaya orang tua ikut melihat ruangannya dan mengenali jalur masuknya. Sesudah itu banyak keluarga memilih anaknya berangkat sendiri, terutama kalau tempat latihannya dekat rumah.

Urutannya

Cara mendaftar les gamelan Jogja di Edufio

  1. Sebutkan instrumen dan tujuannya

    Ceritakan instrumen yang ingin didalami serta sasarannya: ekstrakurikuler sekolah, iringan tari, lomba karawitan, atau kegiatan akhir pekan.

  2. Beri tahu akses ke perangkat

    Sebutkan apakah ada gamelan yang bisa dipakai di sekolah, sanggar, atau rumah. Kalau belum ada, bagian ini yang tim urus lebih dulu.

  3. Pilih jam dan wilayah

    Tentukan hari, jam, dan kecamatan tempat tinggal. Wilayah menentukan pengrawit mana yang tersedia untuk datang.

  4. Cocokkan pengrawitnya

    Tim mengirim profil tutor yang cocok beserta instrumen yang diampu dan gaya tabuhannya, lalu kamu yang memilih.

  5. Pertemuan pertama dan penyesuaian

    Sesudah sesi awal, materi disusun ulang mengikuti kemampuan yang benar-benar terlihat di ruangan.

Hal-hal yang biasa ditanyakan sebelum ikut les gamelan

Apa saja yang dipelajari di les gamelan Jogja?

Peserta mengenal instrumen gamelan Jawa beserta tugas masing-masing, membaca notasi kepatihan, menabuh balungan dengan jepitan tangan kiri yang rapi, menghitung gatra sampai gong, lalu membawakan gendhing utuh berbentuk lancaran, ketawang, dan ladrang. Sesudah dasar itu kokoh, peserta boleh pindah ke bonang, kendang, gender, atau vokal gerong dan sindhen.

Apakah saya harus punya gamelan sendiri di rumah?

Tidak perlu. Sebagian besar peserta berlatih di tempat yang sudah punya perangkat: sanggar, sekolah, pendhapa kampung, atau rumah joglo keluarga. Kalau kamu belum punya akses, sebutkan saat mendaftar dan tim Edufio mencarikan tempat latihan berperangkat di sekitar wilayahmu.

Berapa biaya les gamelan Jogja per sesi?

Mulai Rp80.000 per sesi privat. Sesi dua jam dengan perangkat lengkap berada di kisaran atas sampai Rp150.000 per sesi. Jumlah pertemuan bisa diambil 4 sampai 28 per bulan, dan paket dengan pertemuan lebih banyak menurunkan biaya tiap sesinya.

Umur berapa anak sudah bisa mulai belajar gamelan?

Anak usia delapan tahun ke atas biasanya sudah cukup kuat memegang tabuh saron dan cukup sabar mengulang satu gatra berkali-kali. Anak yang lebih kecil tetap bisa ikut, dengan jeda yang lebih sering di dalam satu pertemuan dan materi yang lebih banyak berisi permainan hitungan.

Instrumen gamelan mana yang sebaiknya dipelajari lebih dulu?

Saron atau demung. Keduanya memainkan balungan, kerangka lagu yang paling mudah diikuti, dan penguasaan balungan menjadi bekal untuk semua instrumen lain. Kalau sasaranmu sudah jelas sejak awal, misalnya ingin jadi pengendang kelompok karawitan sekolah, sampaikan saat mendaftar supaya urutan materinya disusun ke arah itu.

Berapa lama sampai bisa memainkan satu gendhing utuh?

Dengan dua pertemuan per pekan, sebagian besar peserta menuntaskan satu lancaran utuh tanpa berhenti dalam empat sampai enam pertemuan. Bentuk ketawang dan ladrang yang gongannya lebih panjang umumnya tercapai pada bulan kedua. Kecepatan ini bergeser mengikuti frekuensi latihan dan akses ke perangkat.

Apakah harus bisa membaca not balok dulu?

Tidak. Gamelan Jawa memakai notasi angka bernama notasi kepatihan, dan sistemnya berdiri sendiri. Peserta yang belum pernah belajar musik apa pun bisa mulai dari nol. Peserta yang sudah terbiasa not balok justru perlu waktu sebentar untuk melepas kebiasaan membaca garis paranada.

Apa bedanya gamelan gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta?

Keduanya berbagi banyak gendhing, dan perbedaannya terletak pada cara membawakan: pilihan tabuhan bonang, isian kendang, tempo, serta susunan sajian. Gaya Yogyakarta umumnya digambarkan lebih tegas dan menempel dekat pada balungan. Tutor Edufio di DIY mengajar dengan patokan gaya Yogyakarta, sesuai yang dipakai kelompok karawitan sekolah dan sanggar di sini.

Bisakah les gamelan Jogja berjalan secara online?

Bisa untuk sebagian besar materi: membaca notasi, mengenali pathet, menghafal alur gendhing, melatih vokal, dan membedah rekaman. Peserta yang punya satu instrumen di rumah juga bisa menabuh sambil diamati tutor. Yang tetap menuntut kehadiran adalah menyatu dengan ansambel, dan bagian itu dijadwalkan berkala di tempat berperangkat.

Apakah jadwal les gamelan bisa mengikuti kesibukan saya?

Hari dan jam ditentukan peserta di rentang pukul 07.00 sampai 21.00 WIB. Peserta yang bekerja umumnya memilih Sabtu pagi atau malam hari sesudah pukul 19.00, sedangkan siswa sekolah memilih sore. Perubahan jadwal disampaikan sehari sebelumnya supaya pengrawit yang sama tetap bisa hadir.

Bisakah satu keluarga atau satu kelompok belajar gamelan bersama?

Bisa, dan untuk gamelan hal itu justru sering lebih masuk akal karena instrumennya memang dimainkan beramai-ramai. Beberapa keluarga di Jogja mendaftar bertiga atau berempat lalu mengisi posisi yang berbeda di satu perangkat. Sebutkan jumlah peserta saat mendaftar supaya tutor menyiapkan pembagian instrumennya.

Apakah peserta yang tidak bisa berbahasa Jawa tetap bisa ikut?

Bisa. Istilah karawitan seperti gatra, seleh, pathet, dan mathet diajarkan satu per satu di kelas, dan penjelasannya berbahasa Indonesia. Peserta dari luar Jawa maupun luar negeri cukup sering mengambil kelas ini di Jogja. Sampaikan kebutuhan bahasanya saat mendaftar supaya tim mencarikan pengrawit yang terbiasa mendampingi mereka.

Siapa saja yang bisa ikut les gamelan Jogja di Edufio?

Terbuka untuk semua usia: siswa SD dan SMP yang ikut ekstrakurikuler karawitan, guru yang mendampingi ekstrakurikuler itu, mahasiswa, pekerja yang mencari kegiatan akhir pekan, penari yang ingin memahami iringannya, sampai peserta lanjut usia. Pengalaman bermain musik sebelumnya tidak diperlukan.

Bisakah les gamelan Jogja diadakan untuk sekolah, sanggar, atau kantor?

Bisa. Sekolah di DIY yang sedang membangun kelompok karawitan biasanya meminta pendampingan rutin untuk pelatih dan siswanya sekaligus, sementara kantor dan paguyuban lebih sering meminta kelas berkala dengan sasaran satu sajian pendek. Sebutkan jumlah peserta dan perangkat yang tersedia supaya susunan latihannya disiapkan lebih dulu.

Bagaimana kalau cara mengajar tutornya kurang cocok?

Peserta boleh meminta pengrawit lain, dan permintaannya diproses tanpa syarat berbelit. Di kelas gamelan, ketidakcocokan paling sering menyangkut kecepatan mengulang: sebagian peserta ingin satu gatra diulang belasan kali, sebagian lain cepat jenuh. Sebutkan yang mana supaya tutor penggantinya benar-benar pas.

Bagaimana cara mendaftar les gamelan Jogja?

Isi formulir di halaman daftar Edufio atau kirim pesan WhatsApp ke nomor yang tertera. Sebutkan instrumen yang ingin didalami, wilayah tinggalmu di DIY, akses ke perangkat gamelan, dan jam yang paling mungkin. Tim mengirim profil pengrawit yang cocok, lalu pertemuan pertama dijadwalkan sesudah kamu memilih.

Mulai les gamelan Jogja-mu pekan ini

Ribuan keluarga Jogja sudah memulai. Giliranmu menjajal sesi gamelan pertama.