| Genggaman tripod dinamis | Posisi ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, tinggi genggaman sekitar satu setengah sentimeter dari ujung pena, serta peran dua jari yang melipat sebagai penopang telapak. | Buku jari memutih dan ada cekungan dalam di sisi jari tengah. Keduanya tanda tekanan berlebih yang membuat tangan menyerah sebelum setengah halaman selesai. | Pensil batang segitiga atau gulungan tisu kecil di telapak untuk anak. Peserta dewasa memakai pena isi cair yang berhenti menulis begitu digenggam terlalu kaku. |
|---|
| Postur duduk dan sudut kertas | Tinggi meja terhadap siku, telapak kaki menyentuh lantai, lengan bawah bertumpu di meja, dan tugas tangan bebas sebagai penahan sekaligus penggeser kertas. | Kertas dibiarkan lurus di depan badan. Baris tulisan lalu merosot karena tangan menjauh dari badan tanpa kertas ikut bergeser naik. | Kertas dimiringkan searah lengan yang menulis, lalu meja diberi tanda tipis sebagai patokan sampai posisi itu terpasang sendiri tanpa diingatkan. |
|---|
| Empat garis dan tinggi huruf | Garis atas, garis tengah, garis dasar, dan garis ekor. Huruf badan seperti a dan e mengisi ruang tengah, huruf berkepala seperti b dan l menyentuh garis atas, huruf berekor seperti g turun melewati garis dasar. | Tinggi huruf berubah di dalam satu kata. Ketidakrataan inilah yang paling menentukan kesan berantakan, jauh melebihi keindahan bentuk huruf. | Buku halus bergaris lima untuk anak, kertas bergaris ganda untuk dewasa. Garis bantu dikurangi bertahap sampai peserta menulis rata di kertas polos. |
|---|
| Keluarga arah goresan huruf lepas | Huruf dikelompokkan menurut gerakan awalnya: keluarga lingkaran c, a, d, g, o, q; keluarga turun naik n, m, r, h; keluarga turun lurus i, l, t, u; dan keluarga diagonal v, w, x, z, k. | Huruf o dan a dimulai dari bawah searah jarum jam. Hasilnya mirip di kertas, tetapi menyambung ke huruf berikutnya jadi berat dan lambat selamanya. | Tutor menyuarakan arah goresan sambil peserta menulis, lalu giliran peserta yang menyuarakannya sendiri. Suara mendahului tangan sampai gerakannya berjalan otomatis. |
|---|
| Huruf terbalik dan mudah tertukar | Pasangan b dengan d, p dengan q, serta angka 2, 5, dan 7. Lazim sampai sekitar usia tujuh tahun dan perlu penanganan khusus bila bertahan setelahnya. | Anak diminta menyalin huruf yang salah itu puluhan kali. Pengulangan tanpa penanda arah justru memperkuat bentuk yang keliru. | Tiap huruf diberi jangkar tetap: b selalu berangkat dari garis tegak, d selalu berangkat dari lingkaran. Jangkar itu diucapkan setiap kali huruf ditulis. |
|---|
| Jarak antarhuruf dan antarkata | Jarak antarhuruf yang seragam, jarak antarkata kira-kira selebar satu huruf o, serta pengaturan tepi kanan supaya kata tidak terpatah sembarangan. | Kata menempel menjadi satu blok panjang, atau sebaliknya huruf dalam satu kata tercerai sehingga terbaca sebagai dua kata terpisah. | Anak memakai jari kelingking sebagai pengukur, peserta dewasa memakai titik pensil samar. Keduanya dilepas begitu jaraknya sudah terasa sendiri. |
|---|
| Tekanan pena dan daya tahan tangan | Menyetel tekanan supaya garis tetap pekat tanpa membekas di halaman berikutnya, ditambah pemanasan jari dan penambahan durasi menulis secara bertahap. | Tangan pegal setelah lima menit, ujung pensil sering patah, dan bekas tulisan terasa timbul ketika kertas dibalik. | Uji tiga lembar bertumpuk. Bila lembar ketiga ikut membekas, tekanan diturunkan. Latihan berikutnya memakai pensil 2B dan garis gelombang panjang tanpa mengangkat pena. |
|---|
| Kemiringan dan kelurusan baris | Menjaga sudut kemiringan tetap sama untuk seluruh huruf, dan menjaga baris tetap datar ketika menulis di kertas tanpa garis bantu. | Kemiringan berubah di tengah kalimat, atau baris menurun pada sepertiga akhir kertas karena posisi kertas dibiarkan tetap. | Kertas polos dialasi lembar bergaris miring yang terlihat menembus dari bawah. Alas dilepas setelah sudut dan garis dasarnya bertahan sendiri. |
|---|
| Kecepatan menulis yang tetap terbaca | Menulis mengikuti tempo dikte yang dinaikkan bertahap, memilih bentuk huruf yang lebih hemat gerakan, dan menyingkat catatan tanpa kehilangan maknanya. | Tulisan rapi saat menyalin santai, lalu berantakan ketika mencatat penjelasan guru. Bentuknya belum otomatis, sehingga kecepatan langsung merusaknya. | Dikte bertingkat dengan pencatatan jumlah huruf per menit, sehingga kenaikan kecepatan bisa dibaca berdampingan dengan tingkat keterbacaannya. |
|---|
| Tegak bersambung dan aksara Jawa | Sambungan antarhuruf tegak bersambung yang dipakai kelas 1 dan 2 SD, ditambah lengkung dasar serta penempatan sandhangan dan pasangan pada aksara Jawa. | Huruf lepas yang arah goresannya keliru membuat sambungan tegak bersambung mustahil rapi, dan lengkung hanacaraka berubah menjadi patah-patah. | Arah goresan huruf Latin dibereskan lebih dulu, baru sambungan dilatih. Untuk aksara Jawa, latihan berangkat dari lengkung dasar yang berulang di banyak aksara. |
|---|