5/5 · 133 ulasan · SD sampai dewasa
Les Privat Storytelling di Jogja
Les storytelling Jogja: menyusun cerita, membangun tokoh, dan membawakannya sampai pendengar ikut menunggu kelanjutannya. Tutor datang ke rumah atau mengajar online, 8 sampai 10 sesi.
Kata keluarga tentang les storytelling
Saya sering memaparkan produk ke klien. Setelah kelas storytelling, saya berhenti membacakan slide dan mulai membuka dengan satu kejadian nyata. Sekarang justru klien yang bertanya duluan.
Naskah video saya dulu berisi tujuh poin sekaligus. Tutor memotongnya jadi satu cerita dengan satu tokoh, dan durasi tonton rata-rata naik hampir dua kali lipat.
Saya guru SD dan sering mendongeng di kelas. Yang paling terasa justru latihan jeda. Anak-anak sekarang ikut menunggu kelanjutan ceritanya.
Sesi online dari Wates berjalan lancar. Rekaman tiap pertemuan dikirim, jadi saya bisa mendengar sendiri bagian mana yang masih terburu-buru.
Hitung-hitungannya
Les storytelling Jogja dalam angka
Jalannya program
Sepuluh sesi les storytelling Jogja, dari bahan mentah sampai naskah siap dibawakan
Susunan di bawah adalah urutan yang paling sering dipakai. Peserta yang datang dengan naskah setengah jadi biasanya memulai dari tahap ketiga, dan sesi yang tersisa dipakai memperdalam pembawaan.
Pemetaan tujuan bercerita
Tutor mendengarkan satu cerita apa saja darimu tanpa persiapan, lalu mencatat kekuatan yang sudah ada. Dari situ disepakati cerita mana yang digarap dan di forum apa nanti dibawakan.
Bank bahan cerita
Kamu mengumpulkan sepuluh sampai lima belas kejadian dalam bentuk kalimat pendek. Kumpulan ini tetap berguna setelah program selesai, karena bahan yang tidak terpakai sekarang bisa diambil lain waktu.
Rangka dan taruhan
Cerita terpilih disusun ke dalam rangka babak, lengkap dengan jatah waktu tiap bagian dan satu kalimat taruhan. Di tahap ini naskah masih berupa kerangka, belum kalimat utuh.
Draf pertama dibacakan keras
Naskah utuh pertama dibaca di depan tutor dan direkam. Rekaman ini sengaja disimpan sebagai patokan awal, dan hampir semua peserta terkejut mendengarnya kembali di sesi terakhir.
Latihan pembawaan
Fokus pindah dari teks ke penyampaian: pembuka, jeda, tempo, gerak tangan, arah pandang. Tiap pertemuan menghasilkan satu rekaman baru dan satu daftar pendek perbaikan untuk dilatih di rumah.
Uji di depan pendengar dan penutup
Cerita dibawakan di depan orang yang belum pernah mendengarnya, lalu diperbaiki berdasarkan reaksi nyata. Program ditutup dengan naskah final, rekaman terbaik, dan rencana latihan tiga bulan berikutnya.
Peta materi
Sebelas hal yang dibedah di les storytelling Jogja
Urutannya sengaja dimulai dari bahan dan struktur, baru masuk ke pembawaan. Peserta yang buru-buru berlatih suara sebelum ceritanya rapi biasanya berlatih menyampaikan sesuatu yang memang belum layak disampaikan.
| Bahasan | Yang dicakup | Titik rawan | Cara kami mendampingi |
|---|---|---|---|
| Memilih satu cerita dari banyak bahan (Sesi 1) | Cara memanen kejadian dari ingatan sendiri, catatan harian, obrolan keluarga, dan pengamatan sehari-hari, lalu menyortirnya memakai tiga pertanyaan: siapa yang berubah, apa yang berisiko, dan kenapa aku yang menceritakannya. | Peserta baru cenderung memilih kejadian paling dramatis dalam hidupnya, padahal cerita besar sering justru paling sulit dibawakan karena emosinya masih terlalu dekat dan sulit disusun ulang dengan kepala dingin. | Tutor meminta kamu menulis lima calon cerita dalam kalimat pendek, lalu membacakannya keras-keras. Cerita yang membuatmu bicara lebih cepat tanpa membaca catatan biasanya yang paling siap dikembangkan lebih dulu. |
| Rangka tiga babak dan bentuk lingkaran (Sesi 2) | Dua rangka kerja yang paling mudah dipakai pemula: tiga babak sederhana berisi keadaan awal, gangguan, dan keadaan baru; serta bentuk lingkaran ketika tokoh keluar dari dunianya lalu kembali membawa perubahan. | Rangka dipakai seperti daftar isi. Peserta mengisi tiap kotak dengan rata, sehingga bagian gangguan yang seharusnya paling panjang justru mendapat porsi sama dengan pengantar. | Kami menggambar rangkanya di kertas dengan lebar kotak yang tidak sama, lalu menghitung berapa detik jatah tiap bagian. Melihat pengantar hanya kebagian dua puluh detik membuat peserta langsung memangkasnya sendiri. |
| Taruhan: apa yang hilang kalau gagal (Sesi 3) | Cara menaikkan tegangan cerita tanpa membesar-besarkan kejadian, dengan menyebut secara jelas apa yang akan hilang bila tokohnya gagal, dan menempatkan penyebutan itu sebelum puncak cerita. | Cerita berisi rangkaian kejadian yang semuanya berjalan lancar. Menyenangkan bagi pembicara, membosankan bagi pendengar, karena tidak ada satu momen pun yang membuat mereka ingin tahu kelanjutannya. | Tutor meminta kamu melengkapi satu kalimat: kalau ini gagal, maka. Bila kalimat itu susah diisi, kami kembali ke bahan dan mencari kejadian lain, sebab masalahnya ada di pilihan cerita. |
| Tokoh: keinginan, hambatan, perubahan (Sesi 3) | Membangun tokoh yang hidup lewat tiga hal yang bisa ditulis dalam satu paragraf: apa yang dia inginkan, apa yang menghalanginya, dan bagian mana dari dirinya yang berbeda di akhir cerita. | Tokoh digambarkan lewat sifat: rajin, pemberani, baik hati. Sifat susah dibayangkan pendengar. Yang membuat tokoh terasa nyata adalah pilihan yang dia ambil ketika keadaannya sulit. | Kami mengganti tiap kata sifat di naskahmu dengan satu tindakan. Rajin diganti dengan gambaran bangun sebelum azan Subuh. Latihan penggantian ini biasanya memangkas naskah sekaligus membuatnya lebih hidup. |
| Latar dan detail yang bisa dibayangkan (Sesi 4) | Memilih dua sampai tiga detail indrawi yang menahan pendengar di tempat kejadian: bau, suara, cahaya, suhu. Latihan memakai tempat nyata di sekitar peserta, dari pasar dekat rumah sampai lorong sekolah. | Detail ditumpuk sampai cerita berjalan lambat. Peserta menggambarkan seluruh isi ruangan padahal hanya satu benda yang berperan dalam kejadiannya. | Aturan tiga detail: satu untuk tempat, satu untuk waktu, satu untuk perasaan. Sisanya dicoret. Peserta biasanya kaget melihat ceritanya justru terasa lebih penuh setelah dipangkas. |
| Sepuluh detik pertama (Sesi 5) | Enam bentuk pembuka yang bisa dicoba bergantian: kalimat kejadian, pertanyaan langsung, angka mengejutkan, dialog, suara, dan pengakuan pribadi. Tiap bentuk dilatih dengan cerita yang sama supaya bedanya terasa. | Pembuka dipakai untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan latar belakang. Pendengar sudah memutuskan mau menyimak atau tidak jauh sebelum perkenalan itu selesai. | Tutor merekam enam versi pembuka dalam satu sesi, lalu memutarnya untuk orang ketiga yang belum tahu ceritanya. Versi yang membuat pendengar bertanya duluan adalah versi yang dipakai. |
| Suara, tempo, dan jeda (Sesi 6) | Mengatur kecepatan bicara, tinggi rendah suara, dan penempatan jeda. Latihan napas perut supaya kalimat panjang tidak putus di tengah, serta cara menandai naskah dengan garis miring di titik yang wajib berhenti. | Semua bagian dibawakan dengan kecepatan sama. Bagian penting jadi terdengar sama biasanya dengan pengantar, dan pendengar kehilangan petunjuk mana yang harus diingat. | Kami menandai tiga titik lambat dan satu titik henti di naskahmu, lalu merekam dua versi. Peserta hampir selalu memilih versi berjeda setelah mendengar keduanya berturut-turut. |
| Tubuh, tangan, dan arah pandang (Sesi 6) | Posisi kaki yang stabil, gerak tangan yang mendukung kalimat, dan cara membagi pandangan ke beberapa titik di ruangan. Untuk kelas online, latihan diarahkan ke jarak wajah dengan kamera dan tinggi layar. | Tangan disibukkan memegang benda atau bergerak terus tanpa hubungan dengan isi kalimat, sehingga pendengar melihat gerakan yang justru mengalihkan perhatian dari ceritanya. | Tutor meminta kamu bercerita sambil tangan diam sepenuhnya, lalu mengembalikan gerak satu per satu hanya pada kalimat yang memang butuh. Cara ini membuat sisa gerakan terasa disengaja. |
| Menutup cerita tanpa menggurui (Sesi 7) | Tiga cara menutup yang tidak terdengar seperti kesimpulan pelajaran: kembali ke gambar pembuka, menyerahkan pertanyaan kepada pendengar, atau berhenti tepat setelah perubahan tokoh terlihat. | Cerita ditutup dengan kalimat pesan moral yang menjelaskan apa yang seharusnya dirasakan pendengar. Penjelasan itu justru menghapus rasa yang sudah berhasil dibangun sepanjang cerita. | Kami memotong dua kalimat terakhir naskahmu, membacanya ulang, lalu bertanya apakah pesannya masih sampai. Sembilan dari sepuluh kali jawabannya iya, dan kalimat itu tidak dikembalikan. |
| Memangkas naskah dan menyunting (Sesi 8) | Menurunkan cerita tujuh menit menjadi tiga menit tanpa kehilangan inti, memakai urutan pemangkasan: pengantar dulu, lalu kalimat penjelas, lalu tokoh sampingan, terakhir baru detail latar. | Peserta memangkas bagian yang paling sulit ditulis, padahal bagian itu sering justru inti cerita. Yang gugur lebih dulu seharusnya bagian yang paling nyaman dibacakan. | Tiap kalimat diberi tanda wajib, boleh, atau bisa hilang. Setelah semua kalimat bertanda, naskah dibaca hanya dengan bagian wajib. Peserta menilai sendiri mana yang perlu dikembalikan. |
| Bercerita untuk anak: suara tokoh dan pengulangan (Untuk peserta anak dan guru) | Teknik khusus mendongeng untuk pendengar usia dini: membedakan dua sampai tiga suara tokoh, memakai kalimat berulang yang bisa diikuti anak, dan menyisipkan pertanyaan pendek supaya anak ikut bersuara. | Pendongeng memakai enam suara tokoh sekaligus lalu tertukar di tengah cerita. Anak kehilangan jejak siapa yang sedang bicara dan perhatiannya pindah ke hal lain. | Dibatasi dua suara tokoh plus suara pencerita, masing-masing dikunci lewat satu ciri tetap seperti kecepatan atau tinggi nada. Tutor menguji konsistensinya dengan meminta kamu bercerita sambil mata tertutup. |
Les storytelling Jogja ini cocok untukmu kalau
Tutor Kami
Tutor Storytelling terverifikasi
Profil di bawah hanyalah sebagian; tim kami memilihkan yang paling cocok untuk anakmu.

Novi R.
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia · UNY
Orin S.
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia · UNY
Dhamar Y.
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia · UAD
Johan A.
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia · Sanata Dharma
Ciri khas kami
Keunggulan Les Storytelling Jogja
Satu tutor mendengarkan satu cerita
Ceritamu dibedah kalimat per kalimat, termasuk bagian yang kamu sendiri sudah bosan mendengarnya. Di kelas berisi belasan orang, giliran membacakan naskah paling banyak datang dua kali sepanjang program.
Materi disusun dari tujuan berceritamu
Peserta yang menyiapkan lomba mendongeng sekolah mendapat urutan latihan berbeda dari peserta yang menyiapkan presentasi kuartalan. Tutor menyusun sepuluh sesi setelah tahu cerita apa yang mau kamu bawakan dan kepada siapa.
Rekaman tiap sesi jadi milikmu
Setiap pembawaan direkam dengan ponsel dan disimpan. Mendengar suaramu sendiri dari sesi kedua lalu membandingkannya dengan sesi kedelapan adalah bukti kemajuan yang paling sulit dibantah.
Jam sesi mengikuti agendamu
Sesi bisa diambil selepas jam sekolah, seusai jam kantor, atau akhir pekan pagi. Peserta yang jadwal kerjanya berubah tiap pekan boleh mengatur ulang sesi berikutnya di akhir tiap pertemuan.
Tutor bisa dipilih dan diganti
Bercerita menuntut rasa aman. Kalau setelah dua sesi kamu merasa gayamu dan gaya tutornya tidak nyambung, katakan saja dan kami carikan pengganti tanpa perlu menjelaskan panjang lebar.
Latihan berpasangan dengan pendengar nyata
Menjelang akhir program tutor mengatur sesi uji di depan pendengar yang belum pernah mendengar ceritamu, biasanya anggota keluarga atau teman. Reaksi orang asing menunjukkan bagian mana yang benar-benar bekerja.
Storytelling jadi lebih dekat, di tempat pilihan keluarga
Belajar storytelling fokus satu tutor satu siswa, di rumah, di tempat pilihan Anda, atau online, jadwal fleksibel.
Apa yang berubah setelah delapan sesi les storytelling Jogja?
Peserta yang masuk kelas storytelling Edufio hampir selalu membawa keluhan yang mirip: ceritanya benar, isinya lengkap, pendengarnya tetap diam. Masalahnya jarang ada pada bahan. Yang kurang biasanya urutan, taruhan, dan cara membawakan.
Delapan sampai sepuluh sesi bersama satu tutor memberi waktu memperbaiki ketiganya secara berurutan. Sesi awal dipakai memilih satu cerita yang benar-benar ingin kamu bawakan. Sesi tengah membedah strukturnya sampai jelas siapa yang menginginkan apa dan apa yang menghalanginya. Sesi akhir dipakai berlatih di depan orang, direkam, lalu diperbaiki di bagian yang masih terdengar rata.
Ada dua hasil yang bisa dipegang di akhir program: satu naskah cerita yang sudah rapi, dan satu rekaman pembawaan versi terbaikmu. Keduanya bisa dipakai ulang. Naskahnya untuk lomba bercerita sekolah, presentasi kelas, pemaparan proyek di kantor, atau video pendek. Rekamannya untuk membandingkan dirimu sendiri tiga bulan kemudian, saat ingatan tentang sesi pertama sudah kabur.
Tiga sebab cerita terdengar datar, menurut catatan kelas storytelling kami
Sebab pertama, cerita dimulai terlalu jauh dari kejadiannya. Pembicara menghabiskan satu menit menjelaskan latar belakang, sementara pendengar sudah memutuskan bosan di detik kedua puluh. Tutor melatihmu memindahkan kalimat pembuka ke titik saat sesuatu mulai berubah.
Sebab kedua, tidak ada yang dipertaruhkan. Ceritanya berisi rangkaian kejadian yang semuanya berjalan lancar. Pendengar perlu tahu apa yang akan hilang kalau tokohnya gagal. Latihannya sederhana: lengkapi satu kalimat berbunyi kalau ini gagal, maka. Bila kalimat itu susah diisi, ceritanya memang belum punya taruhan dan bahannya perlu diganti.
Sebab ketiga, semua bagian dibawakan dengan kecepatan dan volume yang sama. Suara yang rata membuat bagian penting terdengar sama biasanya dengan bagian pengantar. Di sesi pembawaan, tutor menandai tiga titik di naskahmu yang wajib melambat dan satu titik yang wajib berhenti sejenak. Perubahan sekecil itu sering yang paling cepat terasa oleh pendengar.
Sorotan utama
Enam jenis cerita yang paling sering dibawa peserta storytelling di Jogja
Dongeng untuk anak usia dini
Dibawa orang tua, guru PAUD, dan pendamping taman bacaan. Latihannya berat di suara tokoh, kalimat berulang, dan cara menahan perhatian anak yang gampang berpindah.
Lomba bercerita dan mendongeng sekolah
Peserta biasanya siswa SD dan SMP dengan naskah yang sudah ditentukan panitia. Yang digarap adalah pembawaan, penguasaan panggung, dan penyesuaian naskah ke durasi lomba.
Presentasi proyek dan tugas kelas
Siswa SMA dan mahasiswa yang harus memaparkan hasil kerja kelompok. Ceritanya dipakai sebagai pembuka dan penutup, sementara datanya tetap berdiri di tengah.
Cerita merek untuk usaha kecil
Pemilik usaha di Jogja yang ingin menjelaskan asal-usul produknya tanpa berlebihan. Bahan biasanya sudah ada di kepala pemilik, tinggal disusun agar bisa diulang oleh timnya.
Naskah konten video pendek
Kreator yang perlu menahan penonton di sepuluh detik pertama. Latihan difokuskan ke pembuka, satu tokoh, satu perubahan, dan pemangkasan sampai muat dalam durasi unggahan.
Pembuka rapat dan pemaparan kerja
Peserta dewasa yang biasa membacakan slide. Yang dilatih adalah menukar daftar poin dengan satu kejadian nyata, lalu kembali ke data setelah perhatian ruangan terkumpul.
Storytelling untuk siswa SD dan SMP di sekolah-sekolah Jogja
Kemampuan bercerita muncul lebih sering di sekolah daripada yang orang tua kira. Ada lomba bercerita dan mendongeng antarkelas, ada presentasi projek penguatan profil pelajar, ada praktik Bahasa Indonesia yang meminta siswa menceritakan pengalaman pribadi di depan kelas.
Anak yang terbiasa bercerita di rumah biasanya tinggal merapikan urutan. Anak yang jarang mendapat giliran bicara butuh langkah lebih awal: berlatih bercerita kepada satu orang dulu, di ruang tamu, tanpa penonton lain. Tutor Edufio memulai dari titik itu dan menambah jumlah pendengar secara bertahap, biasanya dari satu orang menjadi tiga, baru kemudian satu ruangan.
Kami sering menemui pola yang sama di Depok, Ngaglik, dan Kasihan: anak sebenarnya punya cerita bagus tentang kejadian di rumah atau di jalan menuju sekolah, tetapi menganggapnya tidak layak diceritakan karena bukan peristiwa besar. Sesi awal banyak dipakai untuk membalik anggapan itu. Kejadian kecil yang diceritakan dengan detail tepat hampir selalu lebih hidup daripada kisah besar yang diringkas terburu-buru.
Storytelling untuk peserta dewasa: pemaparan kerja dan cerita usaha
Peserta dewasa datang dengan masalah yang berbeda. Mereka sudah terbiasa bicara di depan orang, sering bertahun-tahun, dan justru itu yang membuat kebiasaannya sulit diubah. Bicara mengikuti slide sudah jadi gerak otomatis.
Latihan untuk kelompok ini dimulai dari memisahkan cerita dari data. Satu kejadian nyata ditaruh di depan, ringkas, dengan tokoh dan waktu yang jelas. Setelah ruangan terkumpul perhatiannya, barulah angka masuk. Peserta yang bekerja di penjualan biasanya melihat hasilnya paling cepat, karena mereka mendapat kesempatan mencoba ulang setiap pekan.
Pemilik usaha kecil punya kebutuhan lain lagi. Cerita asal-usul produk sering hidup hanya di kepala pemiliknya dan menguap ketika yang melayani pembeli adalah karyawan. Sesi diarahkan supaya ceritanya bisa ditulis pendek, diingat, dan diulang oleh siapa pun di tim tanpa berubah bentuk. Di Kotagede dan sekitar Malioboro, cerita seperti ini sering jadi pembeda utama antara dua penjual yang barangnya sebenarnya mirip.
Jogja punya sekolah bercerita sendiri: wayang, ketoprak, dan sendratari
Jarang ada kota yang punya begitu banyak contoh bercerita hidup dalam radius sedekat ini. Dalang membawakan lakon semalam suntuk dengan satu suara yang berganti-ganti peran. Ketoprak membangun ketegangan lewat dialog, bukan lewat efek. Sendratari Ramayana di Prambanan menceritakan kisah panjang tanpa satu kalimat pun diucapkan, dan penonton tetap paham siapa melawan siapa.
Tutor kami memakai contoh-contoh itu sebagai bahan pelajaran yang bisa ditonton, bukan sebagai hiasan. Peserta diminta memperhatikan satu hal saja tiap kali menonton: di mana dalang memasang jeda, kapan pemain ketoprak menurunkan suara, bagaimana penari menandai pergantian babak.
Tradisi tutur Jawa juga menyimpan aturan yang masih berguna hari ini. Pranatacara menjaga tempo agar hadirin mengikuti tanpa merasa diburu. Macapat memakai pengulangan pola supaya kalimat mudah diingat. Peserta yang ingin bercerita dalam bahasa Jawa bisa meminta materi diarahkan ke sana, dan tutor akan menyesuaikan pilihan kata beserta unggah-ungguhnya.
Latihan storytelling mandiri di sela dua sesi
Kemajuan terbesar biasanya terjadi di luar jam sesi. Tugas rumah yang kami berikan sengaja dibuat pendek supaya benar-benar dikerjakan, bukan panjang lalu ditunda.
Latihan hariannya satu: ceritakan kejadian hari itu dalam enam puluh detik, direkam, sekali jalan tanpa mengulang. Cukup lima menit termasuk mendengarkan hasilnya. Setelah dua pekan, sebagian besar peserta sudah bisa menunjuk sendiri bagian mana yang bertele-tele.
Latihan mingguannya dua. Pertama, tulis tiga kalimat pembuka untuk cerita yang sama, lalu pilih satu tanpa membacanya keras. Kedua, dengarkan satu pencerita yang kamu sukai selama sepuluh menit dan catat satu teknik yang ingin kamu coba. Sumbernya bebas: siniar, khotbah Jumat, guru di kelas, atau tetangga yang pandai bercerita.
Buku bahan cerita diisi setiap kali ada kejadian yang membuatmu berhenti sejenak. Satu baris cukup. Peserta yang rajin mengisinya tidak pernah kehabisan bahan saat sesi berikutnya dimulai.
Kelas storytelling online untuk peserta Kulon Progo dan Gunungkidul
Dua wilayah ini paling jarang terjangkau kunjungan tutor, jadi kelas online kami perlakukan sebagai jalur utama di sana, lengkap dengan penyesuaiannya sendiri.
Kabar baiknya, bercerita adalah salah satu keterampilan yang paling sedikit dirugikan oleh layar. Suara terdengar jelas, wajah terlihat dekat, dan rekaman justru lebih mudah dibuat karena sesi berjalan di perangkat yang sama. Naskah bisa dibuka bersama sehingga tutor menandai titik jeda langsung di dokumen yang kamu lihat.
Yang perlu disiapkan hanya tiga hal: perangkat yang diletakkan setinggi mata supaya arah pandangmu terlihat wajar, ruangan yang tidak bergema, dan pencahayaan dari arah depan. Untuk latihan gerak tubuh, peserta diminta berdiri dan memundurkan perangkat sekitar satu setengah meter di beberapa sesi.
Peserta dari Wates, Sentolo, Wonosari, atau Playen biasanya mengambil sesi malam setelah kegiatan harian selesai. Tautan sesi dikirim menjelang jamnya, dan rekaman menyusul setelah pertemuan berakhir.
Mengukur kemajuan storytelling tanpa nilai rapor
Bercerita tidak punya nilai ujian, dan itu membuat sebagian orang tua ragu apakah anaknya benar-benar maju. Kami memakai empat ukuran yang bisa dilihat siapa pun tanpa alat khusus.
Pertama, panjang pembuka. Diukur dengan pengatur waktu, dari kalimat pertama sampai kejadian pertama muncul. Angka ini hampir selalu turun antara sesi ketiga dan keenam.
Kedua, jumlah pertanyaan dari pendengar setelah cerita selesai. Cerita yang bekerja meninggalkan rasa ingin tahu, dan pendengar menunjukkannya dengan bertanya.
Ketiga, jeda yang disengaja. Di rekaman sesi awal, jeda biasanya muncul karena peserta kehilangan kalimat. Di rekaman sesi akhir, jeda muncul di tempat yang sama setiap kali dibawakan, tanda jeda itu sudah jadi pilihan.
Keempat, kemampuan bercerita tanpa naskah. Yang diukur di sini adalah ingatan atas urutan adegan, sementara kalimatnya boleh berubah tiap kali dibawakan. Peserta yang sudah sampai di titik ini bisa membawakan ceritanya di depan siapa saja tanpa persiapan ulang.
Langkah berikutnya
Program lain yang sering diambil bersama les storytelling Jogja
Urutannya
Cara memulai les storytelling Jogja di Edufio
Ceritakan dulu apa yang mau kamu bawakan
Cukup satu paragraf: cerita apa, untuk forum apa, dan kapan dibutuhkan. Keterangan ini yang menentukan tutor mana yang paling cocok.
Pilih tempat dan jam sesi
Di rumah, di tempat lain yang kamu tentukan, atau lewat kelas online. Sebutkan dua pilihan jam supaya pencocokan jadwal lebih cepat.
Tim mencocokkan tutor bercerita
Kami memilihkan pengajar berlatar teater, pedalangan, komunikasi, atau kepenulisan sesuai jenis cerita yang kamu sebutkan di awal.
Sesi pemetaan berjalan
Pertemuan pertama dipakai mendengarkan satu ceritamu dan menyusun rencana sepuluh sesi. Kamu sudah pulang membawa satu tugas latihan.
Jadwal rutin dan catatan berkala
Sesi berikutnya berjalan menurut jadwal yang disepakati, dengan rekaman dan catatan perkembangan setiap kali pertemuan selesai.
Cek dulu jawabannya sebelum mulai les storytelling di Jogja
Saya belum pernah bercerita di depan orang. Apakah tetap bisa ikut les storytelling Jogja?
Berapa lama program les storytelling Jogja berjalan?
Les storytelling Jogja ini tatap muka atau online?
Bagaimana cara mendaftar les storytelling Jogja?
Berapa biaya les storytelling Jogja?
Umur berapa anak sudah bisa ikut les bercerita?
Apa bedanya les storytelling Jogja dengan les pidato atau public speaking?
Tutor storytelling Edufio berlatar belakang apa?
Apakah saya harus punya cerita sendiri sebelum sesi pertama?
Anak saya pemalu. Apakah kelas bercerita justru membuatnya tertekan?
Bisakah les storytelling Jogja dipakai menyiapkan lomba bercerita sekolah?
Apakah materi bercerita bisa diarahkan ke bahasa Inggris?
Bisakah belajar bercerita dalam bahasa Jawa?
Kalau tutornya kurang cocok, bisa diganti?
Apakah ada kelas bercerita bersama teman atau saudara?
Les Storytelling Jogja paling optimal bersama Tutor Edufio
Ceritakan targetmu, kami susun les storytelling Jogja sesuai kebutuhanmu. Tanpa komitmen di awal.